Nanti
ismah beliin anak-anak jalanan roti sejenis kartika sari ya? Jangan! Mereka
nanti keenakan. Itulah alasan keluargaku. Aku memang bukan anak yang sering dididik
dengan sesuatu yang instan. Akhirnya aku diam-diam membelikan roti kering
kartika sari untuk anak jalanan. Tapi apa reaksi anak-anak setelah memakan? “Yah ka, inimah roti apa kali, enggak enak
mendingan uangnya aja”. Aku menimpali “Ya
kamu, ini roti kering rasa keju”. Tadinya mau roti basah tapi lagi enggak
ada. Baru sekarang, makanan sebegitu enaknya, kebanyakan mereka tidak suka
sampai bersisa daripada biasanya yang kadang malah kurang jika sedang
kelaparan.
3
minggu berlalu. Aku berniat membelikan ice cream. Sudah kurencanakan lama,
kupersiapkan 1 sendok yang dipendam di dalam tas karena lagi-lagi swalayan yang
dikunjung tak juga menjual ice cream walls tub yang ukurannya lebih besar dari
ice cream campina tub dengan alasan stock lagi kosong belum dikirim barang.
Akupun harus lebih bersabar untuk menunggu.
19-Februari-2012
Aku
berjalan menuju mini market, ternyata benar ice cream yang kucari tak ada. Akhirnya
aku membelikan ice cream yang berbeda merk. Tujuannya mengapa? Aku bukan ingin
memanjakkan mereka, mengenalkan kepada mereka sesuatu yang enak. Aku fikir rasanya tidak salah-salah banget, jika memiliki harta lebih aku niat dan berkesimpulan berarti itu rezeki jatah
mereka yang Tuhan berikan melalui aku. Aku ingin menyuapi mereka secara bergilir
dan membersihkan menggunakan
tisu, tangan atau mulut mereka ketika acak-acakan makan. Daripada harus mengelap menggunakan baju, sampai menjilati tangannya. Aku
tahu ukuran sendok untuk ice cream yang diberikan penjual hanya sendok plastic
berukuran kecil dan itu membuat mereka anak-anak tidak merasa puas ketika
menikmati suapan. Aku faham, makan es tidaklah membuat perut kenyang, justru
mulut akan merasa haus. Reaksi yang sekarang berbagai jawaban “yah ka, sayamah daripada yang begini,
mendingan yang Rp2.000-an”. Aku sengaja memberikan mereka bukan ice cream
gagang, supaya melalui ice cream tub mereka bisa lebih berbagi kepada temannya,
jangan egois atau serakah. Ketika kubuka tutup es tersebut, mata anak-anak
tertuju pada si air beku 3 rasa, bahkan salah 1 dari mereka ada yang menjilati
tutup es. Jangan! ujarku. Aku mengeluarkan sendok dari tas sambil berkata “saya suapin ya?:. Mereka lagi-lagi
berkomentar. “Dih ka, janganlah malu sayamah
udah gede, bukan anak-anak lagi”. “Enggaklah kak sendiri aja”. Tapi dari 5
anak, hanya 3 yang mau aku suapi.
Yes!
Berhasil, meski awalnya malu-malu tapi pasti mau. Sampai temannya greget tidak
ingin disupai tapi ingin cepat langsung menyantap namun lama menunggu giliran. “Ya udah sini saya aja ka, susah amat”.
Jika saya memberikan makanan kepada mereka diusahakan sesuai urutan absen nama
dari abjad A. Aku beralasan dan berkata pada mereka, menyuapi kamu karena saya
sayang kalian. Kalian jangan punya pacar. Kakak juga enggak punya, mending
nanti langsung nikah aja. #eh. Kupercaya ada beberapa anak yang sudah beranjak
mengalami masa puber, sehingga diperlukan pendidikan seks supaya menghindari
penyimpangan yang mereka tidak banyak tahu. Hingga salah 1 dari mereka anak
kelas 4 SD berkata
“kak, sayanya mau malem mingguan nih”.
“sama siapa?”
“sama pacar saya”
“Siapa”?
“Tapi pacar sayanya enggak suka sama saya”.
“Janganlah, kamu masih kecil, pacaran itu capek dan dosa #loh.
(Pacaran itu tidak memberikan kepastian hanya kesenangan
angan belaka, membuat ketagihan, dan menumpuk-numpuk dosa yang tak terasa serta
membuat terlena)
Bahagia
tak terhingga rasanya tertawa, bercerita tanpa batas bersama mereka. Hampir
tidak pernah ketika membagikan makanan aku makan bersama mereka. Bukan aku
tidak mau, melihat saja rasanya sudah kenyang. Seketika juga kulupa meski aku
dan mereka tidak sama usia, jenis kelamin, tetapi aku tidak merasa berbeda
latar belakang keluarga, pendidikan, apapunlah. Aku tidak jijik pada mereka,
tapi harus lebih hati-hati karena dunia pergaulan mereka lebih ekstrim dariku.
Meski anak-anak lugu, mereka terlalu cepat mengenal dunia dewasa dan sangat
bahaya. Karena mereka dapat langsung sesuatu baru yang dipengaruhi temannya
serta mungkin dianggap enak sesaat yang terkadang sesat.
Makanan
ringan sampai berat yang kusediakan atau teman-teman yang dibawa beragam macam,
jenis, ukuran serta rasa. Yang pasti harus dibagi sama rata. Ada teman yang
memberikan tango dan TOP sachet dengan jumlah banyak, namun begitu dicoba
rasanya sudah kurang enak padahal masa kadalursa belum berlaku. Entahlah, anak-anak
pun mengeluh, tapi sambil memakan sampai habis. Pernah juga ada pemudi dan
pemudi katanya dari organisasi NU apalah, bagi-bagi makanan di jalan.
Menghampiriku membagikan roti bakar yang ditaburi mesis dibungkus plastic. Aku
mengucapkan terima kasih. Tetapi lagi-lagi anak menunjukkan wajah yang kurang
tidak suka, tapi habis juga tak bersisa.
Aku
merasa bingung ketika waktunya membagikan makanan, karena ada anak yang suka atau tidak suka serta dilihat pula dari anggaran keuangan yang ada. Begitupun saat memberikan metode pangajaran yang dianggap mudah, nyaman, serta
tidak sulit dipahami. Ketika temanku mengajari anak-anak menggambar, pertemuan
selanjutnya mereka mengeluh “kak, pengen
belajar matematika. Jangan kayak kemaren belajar ngegambar kayak anak TK”.
Memang kuakui, terkadang memperlakukan mereka seperti anak-anak, karena
kebanyakan mereka belum menginjak masa remaja.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar