Dunia
anak-anak, anak remaja, anak dewasa, wanita jadi-jadian atau bukan pria sungguhan hingga usia muda-tua aku yakin pasti memiliki
dunia khayalan. Mereka semua bisa bebas berfantasi apapun yang dibayangkan.
Terutama anak-anak yang bisa merekayasa terkadang diluar nalar batas normal.
Seperti yang dikatakan salah satu adik jalanan bernama Sofyan. Banyak cerita
yang oleh si anak diutarakan kepada mamahnya khususnya tentang kedekatan ketika
bersama denganku.
Pertemuan
sore kemarin aku besama teman-teman berkunjung ke rumah Sofyan dengan tujuan
membicarakan kelanjutan pendidikan paket A dan ingin melihat keadaan tempat
tinggal keluarga adik-adik jalanan yang sesungguhnya. Dimulai dengan
pembicaraan tentang kepribadian Sofyan, permasalahan tentang adik-adik jalanan, sampai becerita banyak tentangku.
Kemudian seketika aku bertanya
Sofyan suka cerita tentang saya bu?
“Ya, kalau pulang pasti cerita. Sofyan banyak cerita sama
saya tentang kak Azhar katanya mah, ketemu teteh kampus orang baik pada cantik-cantik
lagi, Sofyan dikasih buku, alat tulis”
Aku menimpali sambil sedikit tertawa
MS : (Mamah Sofyan) “Siapa kak Azhar itu”?
S : (Sofyan) “Mah, kak Azhar itu orangnya
asyik, Sofyan suka dikasih makanan, disuruh sekolah lagi ikut paket (paket
ujian A untuk anak SD). Nantimah nanyalah sama kak Azhar kelahiran tahun
berapa. Nanti Sofyan sama teman-teman yang lain mau ngumpulin bikin kejutan”
MS : Pernah dia ke rumah mukanya jutek. “Kenapa
Sofyan”?
S : “Kak Azharnya sombong, pilih kasih”!
terus Sofyan bilang, teman-teman besok jangan mau ada yang kesini lagi!
Ya bu, karena waktu itu saya lagi ngurusin Didin mau ikut
paket, jadi sementara merekanya enggak saya perhatiin. Pusing juga, banyak yang
ngomong saya bingung nanggepin yang mana dulu.
MS : jangan begitu, kan yang diurusin kak
Azhar banyak bukan ngurusin Sofyan aja..
S : “mah, Kak Azhar ngajakin ke rumahnya.
Wah, di rumahnya gede, banyak mobil”.
M S : “Terus gimana, ketemu ibunya kak Azhar”?
S : “Di rumahnya tinggal sendiri”.
MS : “masa rumah gede tinggal sendiri”?
S : “Ya mah. Terus Sofyan disana makan
enak, kata kak Azhar makannya di atas meja makan jangan di bawah. Eum, mah
pokoknya enak. Disana ada kolam renangnya”
MS : “Kamu renang enggak”?
S : “Enggak mah. Terus Sofyan bilang sama
kak Azhar. Kak jangan naik mobil Avanza, naik mobil sedan aja. Terus kak
Azharnya jawab. Kalau yang itu bukan punya kak Azhar, punya kakek. Sofyan naik
sedan, enak mah”..
MS : “Terus abis makan ngapain lagi”?
S : “Udah, pulang. Nanti mau jalan-jalan
sama kak Azhar”
MS : “nanti kamu kalau ke rumah orang harus
sopan”
S : “Gimana mah ya, kalau kak Azhar main
ke rumah Sofyan malu kayak begini”
Aku menjawab, ah ibu enggak apa-apa sama aja.. Akupun menyimak
dan menanggapi, bohong. Aduh bu, itu semua rekayasa Sofyan. Kalau begitu,
itumah istana presiden bukan rumah saya. Hehe…
Ya, suka saya tanggepin aja, karena dia suka dilebih-lebihin
kalau cerita.
Ya bu, enggak tahu kenapa adik-adik jalanan temennya
Sofyan sering bilang sama saya
“kak, main ke rumah kakak yuk”?
“Mau ngapain? Di rumah saya enggak ada mainan”
“Mau makan-makan”
“Makan sama apa”?
“Sama ayam goreng. Nantilah kak Azhar pulang kita ikutin
dari belakang”
Janganlah..
Bukan aku
tidak mau dikunjungi adik-adik jalanan. Tetapi sesungguhnya dari awal aku lebih
berhati-hati menjaga jarak termasuk tidak memberi identitas asli khawatir
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena disaat sekarang ini, aku belum bisa
membedakan mana orang yang tulus pura-pura baik atau benar-benar jahat. Tak jarang adik-adik jalananpun
bertanya langsung atau melalui pesan singkat
“rumah kakak dimana sih? Blok apa nomer berapa"? Aku terkadang berfikir, "apa yang sebenarnya mereka inginkan ketika
berada di rumahku? Apakah benar ingin makan karena kelaparan? Ingin menguji
kebaikanku? Atau apapun alasannya belum bisa aku terima".
Anak-anak juga tidak jarang mengajakku jalan-jalan
“Kak, nanti libur sekolah jalan-jalan yuk”?
“Kemana”?.
“Renang”
“Dimana”?
“Water park di Tembong”.
“Dimana Tembong”?
“Ya Allah, tinggal dimana sih? Tembong aja enggak tahu.
Itutuh, kalo dari sini lurus”
“Tapi naik mobil kakak ya”?
“Enggak ah”..
Ada juga yang ingin main-main
"Kak, katanya mau
jalan-jalan"?
"Kata siapa? Saya enggak pernah ngomong"
"Kata siapa? Saya enggak pernah ngomong"
"Kata tema-teman"
"Mau ngapain"?
"Jalan-jalan aja kak,
muter-muter Royal (nama daerah tempat berkumpulnya penjual dan pembeli). naik mobil kakak".
Huh! aku menarik nafas
tidak lega.
Aku tidak menyalahkan
apapun yang anak sedang pikirkan kemudian mereka ungkapkan. Meskipun terkadang seperti tidak terjangkau apabila yang
dilakukan atau diutarakannya melewati batas akal sehat. Hanya saja membuat
mereka anak-anak menjadi penikmat dunia khayalan yang tidak baik jika terlalu kebanyakan atau berlebihan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar