Angry Birds


Waktunya bermain angry birds. Bukan bermain bongkar pasang, finger puppet, mobil-mobilan ataupun replika motor Harley Davidson yang akan rusak. Tujuanku mengenalkan kepada mereka agar mengetahui bahwa jenis permainan itu banyak, tidak hanya Ninja Saga, Car Town, ataupun Point Blank. Sebetulnya supaya mengalihkan perhatian mereka untuk mengurangi bermain di warnet dan memberikan kesempatan bermain sama halnya seperti anak lain. Mereka saling berebut untuk mendapatkan jatah bermain dengan durasi yang tidak ditentukan secara bergiliran. Meskipun mereka awalnya belum bisa bermain dan merasa kesulitan ketika langsung meyentuh note book karena aku memang terbiasa tidak menggunakan mouse sebagai alat bantu. Walaupun pada akhirnya si anak merasa tidak semuanya dapat mencoba permainan tersebut. Bahkan aku dicap pilih kasih kepada anak baru, karena lebih mendahulukan salah satu anak bertopi sekolah bernama Fauji. Padahal aku menyuruh hompimpa untuk menentukan siapa yang lebih dahulu namun anak lain tidak mau. Lagi-lagi aku terkadang sulit menghadapinya supaya merasa memperlakukan adil sama rata apapun yang aku berikan kepada mereka. Sangat banyak jenis permainan anak-anak yang bisa dimainkan secara online maupun offline.
Begitupun jenis masalah anak, kisah anak, dan segala permasalahannya yang aku sendiri belum bisa mengatasinya. Ada anak yang sudah atau sedang mengenyam dunia pendidikan, mereka patah semangat ingin berencana putus hubungan dengan dunia sekolah. Berbeda dengan anak yang sudah putus sekolah tapi ingin melanjutkan SMP namun ijazah SD yang masih ditahan sekolahnya terdahulu karena masih memiliki masalah pembayaran dan akan segera diproses
            Anak uring-uringan karena ibunya nangis belum makan, bapaknya marah-marah tanpa sebab, kakaknya sakit malaria. Arrgh! Lebih banyak lagi permasalahan mereka yang kutahu semua penyebab berakar dari kedua orang tua bermula dan bisa berkembang termasuk kepada jiwa si anak.
Kamu baru keluar? *pasang wajah segar setelah mandi
Ya. Mau ngamen dulu kak ke Cilegon
Kenapa kamu ngamen?
Kasihan mamahnya belum makan
Kamu bilang apa sama mamah?
Mah, Gilang berangkat dulu ya…
Nanti kamu kalo ngamen ajakin mamah
Buat apa?
Jangan seenaknya aja mamah nyuruh kamu cari uang
Lah, yang ngurus saya siapa?
Mamah kamu
Nah, sekarang yang ngurus mamah saya gantian!
Hmm,, Ya. Kemudian Akupun hanya bisa terdiam..
Makanya sekolah yang benar
Lah males belajarmah
Jangan dong!
Buat apa?
Nanti kamu pintar, bisa kayak, enggak usah ngamen.
Sampai akhir perbincangan, si anak gagal untuk ngamen karena lebih memilih bergabung bersamaku dan teman-temannya meski dengan keadaan enggak karuan sampai ingin menggadaikan gitarnya kepadaku dan teman-temannya sambil berteriak "hidup ini melarat amat ya Allah"
            Entah bagaimana doktrin apa yang orang tuanya berikan. Mamahnya berleha-leha menunggu anaknya mencari harta sungguh biadab! Aku tidak menyalahkan anak apalagi pemerintah. Begitu berbeda permasalahan dengan anak lainnya
Kamu kemaren ngamen?
Ya kak, hujan-hujan sama Sena
Dimana?
Di sini lampu merah kebon jahe
Katanya Sena udah berhenti ngamen?
Enggak. Kasihan kemaren itu Sena lagi sakit tapi maksain ngamen
Enggak kamu larang supaya jangan ngamen?
Udah. Cuma Senanya enggak mau, tetap pengen ngamen aja
Emang kamu bilangnya gimana?
Udah Sen, kamu jangan ngamen
Terus Senanya jawab apa?
Enggak apa-apalah uangnya pengen beli ban sepeda (sambil meragakan tubuh yang menggigil kedinginan memeluk erat tangannya  dengan bibir yang kelu mungkin sedikit membeku)
Ampun tuhan, apa salah mereka diumur yang masih belia merasakan beban yang tidak ringan

            Lain Sena, lain pula Robi anak mungil dan yang memiliki umur sangat muda diantara kalangan teman-temannya sekitar 7 atau 8 tahun yang belum memiliki pendirian teguh tentang masalah pendidikannya yang terbengkalai dan terancam selesai berakhir dengan tragis.
Rumah kamu dimana?
Deket sama Robi
Robi mana? enggak suka keliatan
Robimah anaknya enggak diurus
Emang kamu diurus?
Yalah
Sekarang Robi dimana?
Robimah ngamennya suka jauh aja (Palima, Balajara, Kalideres)
Robi katanya udah berhenti sekolah?
Ya.
Gimana ceritanya?
Gini nih, kan Robi ngamen, pulangnya digebukin sama bapaknya terus tasnya dibakar, bukunya dibakar
Kenapa?
Enggak tahu
Malam kemarennya juga tidurnya di kuburan
Sama siapa?
Sendiri
Kenapa enggak pulang ke rumahnya?
Takut dimarahin
Pantas saja, ketika aku berusaha memeluk tubuhnya yang kecil aku bertanya sambil menatap matanya
Robi, kamu masih pengen sekolah sayang?
Ya. Menjawab dengan wajah bingung dan mengiba
Aku bertanya kembali Robi masih pengen sekolah?
Enggak. Kenapa?
Cukup menggelengkan kepala yang mungkin dia tertekan hidup tanpa ibu, bapak yang meperlakukannya kasar, serta neneknya yang mungkin kedaannya sudah menua sehingga tidak memberi perhatian lebih kepada cucunya.

*semua percakapan di atas hasil ketika aku berbincang dengan Gilang, anak yang sangat berbeda dari anak lainnya. Berani, penurut, namun terkadang sulit diajak belajar, sering mamasang wajah murung, banyak tingkah, harus lebih bisa memahami keadaannya. Ketika temannya belajar, Gilang ingin bermain hpku, dengan langsung merebut dari tangan atau mengambil dari saku kantong celanaku. Saat teman bermain, dia bernyanyi memainkan gitarnya sambil menyandarkan tubuh ke tasku, itu masih lebih baik, terkadang saking sulitnya Gilang, aku mengikuti dia dengan belajar tidur-tiduran sampai guling-gulingan di rumput. Waktunya dibagikan makanan terkadang Gilang enggan, bahkan berebut, dan ingin mendapat jatah lebih banyak. Namun begitu, aku tetap berusaha merayu dan tibalah saatnya untuk menaklukan Gilang yang akhirnya mau belajar, yang pasti jangan kehabisan akal deh. Karena pada dasarnya Gilang anak yang normal, dan sering mangajakku bercanda. Ketika belajar, menyandarkan tubuhnya ke pundakku akupun membiarkannya. Bukan begitu saja, ternyata Gilang anak yang tidak disukai oleh banyak temannya, sehingga teman-temannya mau bergabung belajar dengan syarat Gilang tidak ikutan. Lagi-lagi bertambah tugasku untuk merayu anak mahluk yang saling bermusuhan sampai akhirnya aku memisahkan cara dan tempat belajar Gilang daripada temannya yang lain
Catatan: aku selalu berusaha masuk dunia mereka, dengan batasan dan caraku sendiri. Meskipun mereka terlihat anak baik, aku tetap harus selalu mengkondisikan dan mengendalikan keadaan.

             Untuk bapak Robi, kalau tidak ingin mengurus anaknya, ya jangan disiksalah pak,, apa karena kesempatan istri bapak sudah meninggal? Anak bapak nakal? Kesal melihat tingkahya yang sulit diatur? Kenapa tidak bapak titipkan saja di tempat penampungan anak? Pak, Aku belum mencoba memiliki suami, pasti aku belum penah merasakan bagaimana perjuangan berrumah tangga ketika mengharapkan memiliki anak yang tampan fisik badan, pandai berfikir, cerdas beribadah, baik dan bisa berbuat lebih daripada orang tuanya. Tapi pak, semua anak aku pikir tuhan tidak salah menciptakan ketika mereka anak-anak tak berdosa dilahirkan ke dunia untuk menjadi generasi penerus keluarga bapak, justru itu menjadi tantangan bapak untuk memperjuangkannya. Tidak ada anak yang nakal ataupun bodoh, semua kembali bagaimana pola pengasuhan dan pendidikan yang mereka dapatkan. Bapak jangan heran jika suatu saat anak bapak menjadi pencuri, pemabuk, pembunuh atau penghuni sel tahanan anak. Aku tidak niat untuk menasehati atau mengajari seolah aku lebih memahami kondisi keluarga terutama anak bapak. Tidak pak, aku bukan tuhan, gurunya Robi, temannya Robi, kakaknya Robi, adiknya Robi, ibu angkatnya Robi, ataupun apalah silsilah yang ada di dalam pohon keluarga. Mungkin ibu Robi di syurga mengira bapak dari anaknya dapat menjaga amanat yang sudah diberikan Allah. Mohon maaf berikanlah tanggung jawab lebih kepada anak kandung bapak dan terima kasih atas pengertiannya

*berfikir, entah kapan aku berani dan mengutarakan isi tulisan ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar