Suka anak kecil? Anak-anak yang masih kecil. Peduli dengan mereka? (anak jalanan, anak memiliki kekurangan, kekurangan anggota badan, kekurangan anggota keluarga, kekurangan kepedulian dari lingkungan sekitar). Aku cinta dan suka, tentunya merasa iba serta ingin tahu jika para anak-anak yang hidupnya terlihat tidak lebih baik daripada anak biasanya. Siapa yang pernah sengaja berkunjung melihat tempat tinggal mereka? Entah itu tinggal di panti asuhan, pinggir jalan, rumah singgah atau rumah sakit.
Aku banyak mengetahui keberadaan kegiatan
anak kanker bermula dari twitter Pandji Pragiwaksono yang sering banyak nge-tweet segala cerita bahagia dan duka
yang diumbar di dalamnya. Dari situ aku memiliki hasrat ingin segera mengetahui
Bagaimana kondisi
anak-anak yang ada disana?
Apakah mereka merasa
bahagia karena dapat bertemu dengan idola yang diharapkan?
Mungkin mereka sangat
tersiksa ketika harus ketergantungan minum obat dan tidak boleh sembarangan
mengkonsumsi makanan?
Bagaimana kondisi
keluarga mereka yang katanya kanker merupakan penyakit mengancam kehidupan?
Awalnya aku sudah mengutarakan keinginan
kepada orang tua untuk mengunjungi Rumah Sakit Kanker Dharmais karena tidak
jarang ketika aku pergi bersama keluarga melewati RSKD.
“Bu, pak, Ishmah pengen
ke Dharmais”
“mau ngapain”?
“pengen liat anak-anak
kanker
“kapan”?
“boleh enggak nanti
pulang (ketika berada di kota yang melewati daerah slipi)”?
“boleh aja, tapi enggak
janji ya? Gimana situasi perjalanan”
“ya. Nanti aja pulang
dari Garut / besok pas ke Bekasi”
“ya”
“kalo enggak, kita mau
ke Jakarta sempetin mampir sebentar”
“boleh”
Hore! Mereka menyambut. Saat di
perjalanan ternyata lagi-lagi gagal masuk ke RSKD *sedikit cemberut. Alasan
perjalanan macet, kondisi penumpang di kendaraan yang tidak sabar ingin segera pulang karena
lelah, serta waktu yang terbatas. Ibu mengerti bahwa aku marah memaksa ingin
segera kesana. Akhir sedikit berdebat berbeda pendapat, dengan bijak bapak
sengaja mengkosongkan jadwal kegiatan khusus mengantar aku melihat anak-anak
kanker.
Rabu, 9 Maret 2011.
Niat ingin segera melihat keberadaan mereka
berhasil dilaksanakan. Persiapan berangkat dari rumah diantar orang tua jam
07.00. mampir ke Modernland, kemudian melanjutkan perjalanan menuju salah satu
pusat perbelanjaan di Jakarta membeli sedikit mainan untuk diberikan kepada
adik-adik pengidap kanker. 12.45 sampai di Slipi, melihat keadaan anak-anak di
bangsal anak. Menjelajahi bangsal ruangan yang bermacam-macam nama. Ruang jerapah,
ruang jagung, ruang ketimun, ruang kacang polong, ruang semangka, sampai ruang
apel, dan nama-nama lainnya. Berbagai anak sedang merasakan bahwa dirinya sakit
atau sedang tidak sehat. Tetapi wajah mereka terlintas seperti gembira. Padahal
sebagian dari mereka tangan diinfus,
matanya diperban, mereka juga harus dikemoterapi atau thromboapheresis. Kanker
merupakan penyakit genetik, pertama aku diantarkan relawan bernama kak Rani.
Setiba di lokasi, aku langsung diajak melihat pasien upin atau mas Adzi (ikon Dharmais) leukeumia. Ada juga
anak yang meringis kesakitan seperti Ilham (kelenjar getah bening) sedang masa
SMP setelah lulus dari SD dan belum melanjutkan masa SMA. Kemudian berjalan lanjut memasuki kamar anak perempuan mungil berusia belum sampai 1 tahun, dan Hildan
kanker kelenjar bola mata, kedua matanya diangkat karena sudah menyerang otak. Lalu sempat bercengkarama bersama pasien bernama Wahyu, pada saat itu aku melihat Wahyu ngobrol via by phone dengan Pandji “Bepe kesini dong”! tetapi
gagal, diujung telepon menjawab bahwa bepe belum bisa berkunjung ke RSKD. Sebenarnya aku
merasakan gejolak jiwa berkecamuk ketika diperbolehkan memasuki ruangan isolasi
dengan peralatan yang bisa dipantau setiap waktu. Masih ingin berlama main
dengan anak-anak tersebut, namun sebagian dari mereka sedang istirahat siang. Disana
fasilitasnya lengkap dan membuat mereka terlihat lebih nyaman. Ada ruang
bermain, ruang perpustakaan ditambah jaringan internet. Mereka disana sekolah
juga ditemani orang tua dan pengajar dari relawan.
Sakit kepala, sakit perut, sakit gigi. Ah,
entah apa jenis sakitnya selagi kita bisa beraktivitas paksakan saja apalagi bagi
manusia-manusia berjiwa muda. Kuatkanlah seolah raga badan kita sehat jika
dibandingkan dengan mereka pengidap kanker mahluk yang ketergantungan obat. Motivasi
semangat hidup mereka kuat. Kegiatan mereka tidak terhalangi meski harus
menggunakan kursi roda atau masker. Aku memang manusia yang sehat fisik lahir
batin, justru malu melihat anak-anak seperti mereka. Aku merasa sering terlena
dengan kenikmatan yang Tuhan berikan, dengan berleha-leha, memiliki mata namun
digunakan untuk hal yang seharusnya tidak dilihat. Memiliki tangan tanpa ada
selang infus tapi terkadang disalah fungsikan dan belum merasa bersyukur. Bukan
berarti kufur juga.. Ingin bertemu siapa? Keinginan mereka banyak yang
dipenuhi. Tim dari YPKAI (Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia) atau relawan
berusaha mewujudkannya. Tapi ingat, 8 dari 10 anak kanker bisa disembuhkan.
Berarti bukan tidak sedikit pula anak yang tidak bisa diselamatkan karena meninggal
dunia. Yuk berbagi…
Sudah saatnya mereka dirawat di syurga
Rabu minggu depannya tanggal 16 April membaca
kabar melalui update status fb bahwa Hildan meninggal dunia. Aku ingat ketika
kesana beruntung diberi kesempatan melihat alm. Hildan sedang istirahat
tertidur pulas dengan wajah polos. Minggu-minggu berikutnya Wahyu meninggal dunia,
tetapi sebelumnya impian bertemu dan berphoto bersama bepe tersampaikan ketika
sedang launching buku “ketika jemariku menari” menurut photo yang aku lihat
diakun fb, dan yang terakhir beberapa minggu selanjutnya Adzi meninggal dunia juga,
terlintas dalam benak pikiran ketika alm. Adzi untuk pertama dan terakhir tentunya bertemu saat itu Adzi tidak
ingin bersalaman denganku sampai menangis. Aku berharap semoga kalian lebih bahagia
melanjutkan kehidupan di syurga, dan semoga anak-anak yang masih dirawat di
bangsal lekas diberi kesembuhan meskipun tidak bisa dengan cara cepat dan butuh
proses yang panjang bahkan sampai pengobatan yang menyakitkan terasa sampai
badan. Mari kita do’akan kakak…
Ada 3 hal yang bisa dilakukan untuk membantu
adik-adik kita yang terkena kanker:
1. cash: memberikan donasi yang dapat
disetorkan langsung melalui Bank.
2. co-location: kalo kamu tidak punya dana
untuk nyumbang, tapi punya waktu luang. Kamu bisa datang untuk menghibur
adik-adik di Dharmais. J
3. communicate: kalo kamu tidak memiliki
keduanya (money&time), kamu masih punya kesempatan untuk membantu kegiatan
#C3 kepada teman-teman.
By: Ishmah Azhar
By: Ishmah Azhar


Tidak ada komentar:
Posting Komentar