Ice Cream Tub



Nanti ismah beliin anak-anak jalanan roti sejenis kartika sari ya? Jangan! Mereka nanti keenakan. Itulah alasan keluargaku. Aku memang bukan anak yang sering dididik dengan sesuatu yang instan. Akhirnya aku diam-diam membelikan roti kering kartika sari untuk anak jalanan. Tapi apa reaksi anak-anak setelah memakan? “Yah ka, inimah roti apa kali, enggak enak mendingan uangnya aja”. Aku menimpali “Ya kamu, ini roti kering rasa keju”. Tadinya mau roti basah tapi lagi enggak ada. Baru sekarang, makanan sebegitu enaknya, kebanyakan mereka tidak suka sampai bersisa daripada biasanya yang kadang malah kurang jika sedang kelaparan.
3 minggu berlalu. Aku berniat membelikan ice cream. Sudah kurencanakan lama, kupersiapkan 1 sendok yang dipendam di dalam tas karena lagi-lagi swalayan yang dikunjung tak juga menjual ice cream walls tub yang ukurannya lebih besar dari ice cream campina tub dengan alasan stock lagi kosong belum dikirim barang. Akupun harus lebih bersabar untuk menunggu.
19-Februari-2012
Aku berjalan menuju mini market, ternyata benar ice cream yang kucari tak ada. Akhirnya aku membelikan ice cream yang berbeda merk. Tujuannya mengapa? Aku bukan ingin memanjakkan mereka, mengenalkan kepada mereka sesuatu yang enak.  Aku fikir rasanya tidak salah-salah banget, jika memiliki harta lebih aku niat dan berkesimpulan berarti itu rezeki jatah mereka yang Tuhan berikan melalui aku. Aku ingin menyuapi mereka secara bergilir dan membersihkan menggunakan tisu, tangan atau mulut mereka ketika acak-acakan makan.  Daripada harus mengelap menggunakan baju, sampai menjilati tangannya. Aku tahu ukuran sendok untuk ice cream yang diberikan penjual hanya sendok plastic berukuran kecil dan itu membuat mereka anak-anak tidak merasa puas ketika menikmati suapan. Aku faham, makan es tidaklah membuat perut kenyang, justru mulut akan merasa haus. Reaksi yang sekarang berbagai jawaban “yah ka, sayamah daripada yang begini, mendingan yang Rp2.000-an”. Aku sengaja memberikan mereka bukan ice cream gagang, supaya melalui ice cream tub mereka bisa lebih berbagi kepada temannya, jangan egois atau serakah. Ketika kubuka tutup es tersebut, mata anak-anak tertuju pada si air beku 3 rasa, bahkan salah 1 dari mereka ada yang menjilati tutup es. Jangan! ujarku. Aku mengeluarkan sendok dari tas sambil berkata “saya suapin ya?:. Mereka lagi-lagi berkomentar. “Dih ka, janganlah malu sayamah udah gede, bukan anak-anak lagi”. “Enggaklah kak sendiri aja”. Tapi dari 5 anak, hanya 3 yang mau aku suapi.
Yes! Berhasil, meski awalnya malu-malu tapi pasti mau. Sampai temannya greget tidak ingin disupai tapi ingin cepat langsung menyantap namun lama menunggu giliran. “Ya udah sini saya aja ka, susah amat”. Jika saya memberikan makanan kepada mereka diusahakan sesuai urutan absen nama dari abjad A. Aku beralasan dan berkata pada mereka, menyuapi kamu karena saya sayang kalian. Kalian jangan punya pacar. Kakak juga enggak punya, mending nanti langsung nikah aja. #eh. Kupercaya ada beberapa anak yang sudah beranjak mengalami masa puber, sehingga diperlukan pendidikan seks supaya menghindari penyimpangan yang mereka tidak banyak tahu. Hingga salah 1 dari mereka anak kelas 4 SD berkata
“kak, sayanya mau malem mingguan nih”.
“sama siapa?”
“sama pacar saya”
“Siapa”?
“Tapi pacar sayanya enggak suka sama saya”.
Janganlah, kamu masih kecil, pacaran itu capek dan dosa #loh.
(Pacaran itu tidak memberikan kepastian hanya kesenangan angan belaka, membuat ketagihan, dan menumpuk-numpuk dosa yang tak terasa serta membuat terlena)
Bahagia tak terhingga rasanya tertawa, bercerita tanpa batas bersama mereka. Hampir tidak pernah ketika membagikan makanan aku makan bersama mereka. Bukan aku tidak mau, melihat saja rasanya sudah kenyang. Seketika juga kulupa meski aku dan mereka tidak sama usia, jenis kelamin, tetapi aku tidak merasa berbeda latar belakang keluarga, pendidikan, apapunlah. Aku tidak jijik pada mereka, tapi harus lebih hati-hati karena dunia pergaulan mereka lebih ekstrim dariku. Meski anak-anak lugu, mereka terlalu cepat mengenal dunia dewasa dan sangat bahaya. Karena mereka dapat langsung sesuatu baru yang dipengaruhi temannya serta mungkin dianggap enak sesaat yang terkadang sesat.
Makanan ringan sampai berat yang kusediakan atau teman-teman yang dibawa beragam macam, jenis, ukuran serta rasa. Yang pasti harus dibagi sama rata. Ada teman yang memberikan tango dan TOP sachet dengan jumlah banyak, namun begitu dicoba rasanya sudah kurang enak padahal masa kadalursa belum berlaku. Entahlah, anak-anak pun mengeluh, tapi sambil memakan sampai habis. Pernah juga ada pemudi dan pemudi katanya dari organisasi NU apalah, bagi-bagi makanan di jalan. Menghampiriku membagikan roti bakar yang ditaburi mesis dibungkus plastic. Aku mengucapkan terima kasih. Tetapi lagi-lagi anak menunjukkan wajah yang kurang tidak suka, tapi habis juga tak bersisa.
Aku merasa bingung ketika waktunya membagikan makanan, karena ada anak yang suka atau tidak suka serta dilihat pula dari anggaran keuangan yang ada. Begitupun saat memberikan metode pangajaran yang dianggap mudah, nyaman, serta tidak sulit dipahami. Ketika temanku mengajari anak-anak menggambar, pertemuan selanjutnya mereka mengeluh “kak, pengen belajar matematika. Jangan kayak kemaren belajar ngegambar kayak anak TK”. Memang kuakui, terkadang memperlakukan mereka seperti anak-anak, karena kebanyakan mereka belum menginjak masa remaja.

Diaku (i)



Mulai, selama, dan sampai saat ini saya dekat dengan semua jenis anak-anak karena memang atas dasar saya suka dan jatuh cinta sama mereka serta tentunya dilandaskan niat baik. Anak jalanan, awalnya saya berencana ingin menuliskan kisah kehidupan mereka, karena belum pernah melihat/ membaca buku karya anak Indonesia kisah nyata tentang anak jalanan. Baru membaca buku street boys, itupun buku hasil translate. Tetapi makin lama saya masuk dunia mereka, semakin banyak anak-anak jalanan yang hidupnya mungkin tidak diperhatikan keluarga. Akhirnya saya inisiatif mengajak teman untuk membuat program belajar mengajar di jalanan. Dengan membuat perjanjian bersama mereka
1.    Belajar membahas PR sekolah
2.    Bermain, membaca buku & memberikan kesempatan anak berkeluh kesah
3.    Makan. Mencicipi makanan yang telah disediakan atau sesuai keinginan anak-anak
Merencanakan sebuah program tidak mudah. Dibutuhkan manusia, waktu, biaya tentunya tenaga. Ada saja alasan mengajar anak jalanan gagal, baik dari saya sendiri, keadaan cuaca, murid atau para pengajar. Ketika mereka datang terlambat karena ngamen, atau tidak membawa alat tulis, saya tidak bisa banyak membuat peraturan supaya mereka disiplin. Karena saya bersama teman bukan membuat seperti sekolah resmi, dan tidak ada hak kami untuk memberi hukuman. Berjalan 6 bulan saya masuk pergaulan anak jalanan, sangat banyak, dan tidak sedikit permasalahan kehidupan mereka. Saya tidak ingin dihargai, dihormati oleh orang tua dari anak-anak jalanan. Mereka tidak dipungut untuk mengucapkan terima kasih, berbalas budi atau apapunlah ungkapan sejenisnya. Saya tidak suka kepada orang yang mempekerjakan anak kecil. Ada sedikit niat ingin sosialisasi kepada orang tua dari anak-anak mereka, tapi setelah dipertimbangkan mungkin belum ada waktu yang tepat untuk saya bertemu dari orang tua mereka. Saya memang orang lain bagi anak-anak jalanan, karena tidak ada ikatan darah kekeluargaan.

19-Februari-2012, 14.10
Mengalami 2 kali percakapan bersama 2 orang tua yang berbeda tanpa rencana. Saya menghubungi Fauji untuk memastikan jika hujan masih mengguyur deras, maka program belajar ditunda sampai minggu depan. Kurang lebih beginilah isi percakapan
Ass.. faujiny ada?
Enggak ada lagi kemana tadi itu yah, ngeropok katanya
Apa? Ngerokok?
Bukan. Muludan
O.. saya kira ngerokok
Ini siapa?
Saya Azhar
Ya, yang Fauji bilang itu. Katanya kemaren sore mau ketemu kak Azhar.
Ya pak, saya
Pak, Fauji ngamen pengen sendiri?
Enggak tahu saya juga. Kalo sama saya dilarang ngamen
Ya pak, di jalan itu bahaya apapun bisa terjadi apalagi enggak kekontrol sama orang tua. Bisa diculik, dibunuh, disodomi, mutilasi kayak ditv *sambil nakut-nakutin*
Ya neng, saya juga gitu. Ting-bating ya.
Ya pak, tapi itu punya gitar?
Itumah saya ngebeliin udah lama waktu Fauji kelas 2 katanya pengen belajar music.
Tapi kata Fauji gitar dapet patungan ngebeliin bapak sama Fauji?
Enggak neng. (Entahlah siapa yang benar-benar berbohong)
Kalo hp pak, katanya dapet patungan juga?
Bukan, itu saya ngejual motor butut. Fauji pengen punya hp yang bagus bisa internetan, saya beliin yang jadul.
Masih kecil pak, buat apa hp?
Buat ngehubungin saya. Karena saya pulang kerja malam
Hmm,, ya pak.
Saya bilang, kamu hidup harus bersyukur, apa adanya, emang saya belum bisa ngebahagiain anak saya
Ya pak, enggak apa-apa
Kemaren magrib juga ketemu sama saya pulang kerja di lampu merah kebon jahe, saya marahin Fauji “pulang kamu”!
Emang kemaren Fauji bilang sama saya belum dapet uang, pengen nyari dulu
Gini neng, padahal Fauji uang jajan saya kasih, biaya sekolah, bayaran saya yang bayarin
Ya pak, Fauji bilang uangnya buat ditabung. Nanti perpisahan sekolahnya juga mau ke Dufan Atlantis Rp250.000. uangnya baru ada Rp100.000,-
Kalo itu saya enggak tahu neng
Saya juga udah bilang, Fauji berhenti ngamennya. Emang enggak ngeganggu mau ujian?
Dia bilang ngeganggu. Ya ini juga mau berhenti.
Anak tuh enggak ngehormatin, saya pengennya pulang kerja anak ngaji, shalat, saya suka kesel tak marahin.
Janganlah pak, namanya juga masih anak-anak..
Bener aja neng, sayamah udah banting tulang anak kayak begitu saya jengkel sampe tak (pokonya perlakuan yang tidak baik untuk dicontoh)
Ya pak, emang kalo ibunya enggak suka ngeh ya, kalo Fauji pulang sekolah pergi keluar rumah bawa gitar?
Enggak tahu tuh ibunya.
Ya pak, mana di jalanan ngeri. Kebanyakan semua teman Fauji udah pada pernah ngerokok
Fauji ngerokok juga?
Enggak pak, (maaf saya berbohong) padahal pengakuan Fauji sudah pernah. Tak terbayang jika saya menjawab ya
Awas aja kalo ketahuan saya udah dimarahin, digampar
Fauji itu anak yang baik, diantara temannya. Dia ketemu saya suka salam, polos
Emang dia anaknya polos. Maaf ya neng, saya suudzon, maaf aja. Saya bilang siapa kak Azhar itu? Jangan sembarang ikut mau diajak sama orang. Awas kamu hati-hati diracun.
Ya pak enggak apa-apa, namanya juga orang yang belum kenal. Kalo saya niatnya baik
Ya neng, saya kira kak Azhar laki-laki. Fauji bilang kak Azhar baik, suka ngasih makanan
Hehe.. karena emang saya suka sama anak-anak. Pengen aja belajar, main, makan bareng
Jadi bener belajar itu?
Benar pak.
Kata saya, kak Azhar itu seperti apa? Kayak gimana orangnya? Baru denger suaranya ditelpon
Hehe.. saya sih pak awalnya pengen nulisin cerita kehidupan anak jalanan. Terus saya pikir enggak salah kalo barengan teman, kita belajar bareng sama anak jalanan
Setiap hari apa aja? Dimana? Rumahnya dimana?
Jum’at, sabtu-minggu sore di PT PERTANIAN PERSERO. Rumah saya di Perumnas-Ciracas
Ya neng, ya maaf udah ngerepotin, ngebebanin neng. Nantimah tolong aja ke Fauji, ajarin yang baik, berhenti ngamen
Ya pak enggak apa-apa, saya juga suka main sama anak-anak panti asuhan, SLB, kanker dll *alasan supaya menguatkan saya enggak ada niat buruk
Neng suka ke panti asuhan? Mulia neng ya..
Hehe.. ya pak kadang-kadang. Makasih pak, maaf ganggu. Tolong kasih tahu Fauji aja, kalo hujan berhenti berarti jadi belajar
Ya. Maaf neng udah ngebebanin. Lagi-lagi bicara seperti itu
Ya enggak apa-apa, makasih pak
Ya, ass..
Wass.
*tutup telpon* ternyata selesai 29.09 setengah jam kurang 51 detik

Nah, percakapan seperti ini yang tidak banyak saya harapkan. Karena pernah ketika saya nelpon Fauji, yang mengangkat ibunya. Ibunya tidak bertanya “ini siapa? bagaimana anak saya? Tahu dari mana?" Maksud saya, tidak salah jika ibunya lebih perhatian kepada anaknya seperti bapaknya ketika bebicara melalui telpon.

18.45
Sebelum selesai acara bersama anak-anak, seketika ada ibu-ibu sambil menggendong anak dan memarahi di depan anak yang dicarinya ketemu.
Pulang kamu!!  Bilang kalau mau nginep ke rumah teman! Bapak nyariin kamu dari semalem. Udah nanti kamu enggak usah nginep di rumah teman lagi! *sambil melotot dengan urat keluar* kesal tapi dengan cara yang salah
*saya menghampiri&cium tangan* kenapa bu?
Ini anak (inisial S F) nginep di rumah temannya semalem enggak ngasih tahu
Ko bisa bu?
Enggak tahu, dari kemaren jam 10 pagi ditunggu sampe malem enggak pulang-pulang.Ya saya cari, ini juga abis nyari.
Bu, S ko ngamen?
Ya dia itu pengen jajannya besar, udah saya marahin jangan ngamen
Dari kapan bu, S ngamen?
Dari kelas 4 SD
Pertamanya gimana bu?
Awalnya dia ikut-ikutan temannya
Ya bu, di jalan bahaya pergaulannya juga
Ya, saya pernah nemuin ditumpukkan bajunya pil?
Pil apa bu? (Bergaya enggak tahu& khawatir salah ngomong)
Macem pil KB
*kata teman saya maksudnya narkoba* hmm.. namanya pil apa bu?
Pil nipam.
Astagfirullah. punya siapa bu? berusaha tenang, tidak menyalahkan walau sedikit kaget
Dia bilang punya temannya
Katanya S ngerokok bu?
Tapi katanya udah enggak, aduh saya capek
Terus itu bu, S ko putus sekolahnya kenapa?
Dia enggak mau ikut Ujian
Berarti sekarang kalo sekolah dia kelas berapa?
Kelas 2 SMP
Ko bisa enggak mau ikut ujian gimana ceritanya?
Kan dia pulang sekolah bawa kertas, terus nangis saya tanya kenapa? Dia bilang enggak mau ikut ujian, gurunya juga udah ngajakin
Sekarang dia mau sekolah lagi enggak?
Dia enggak mau ngulang
Loh, kalo di sekolah lagi harus ngulang kelas enamnya bu ya? karenakan enggak ikut ujian
Ya. Kalo saya enggak apa-apa dia sekolah, tapi masuknya siang soalnya pagi ngasuh jagain adiknya
Hmm. Ya bu, sayang kalo harus putus sekolah
Saya udah capek marahin aja *mata sedikit melotot dan urat sudah mulai melemas*
Terus saya kapan bisa ke SD S? kalo besok gimana? Insya allah saya urusin
Ya udah enggak apa-apa. Makasih neng udah perhatiin anak saya
Ya bu, sama-sama


Kurang lebih seperti di atas percakapan bersama orang tua anak jalanan. Justru saya dari awal lebih lega dan terbuka ketika apa yang saya kerjakan diketahui oleh ibunya. Bukan saya minta diakui, ingin dipuji dan lainnya. Agar supaya saya ada kebebasan saat melakukan apapun kepada si anak. Saya juga banyak pengalaman ketika dekat dengan berbagai macam orang tua dari berbagai anak. Saya ingin orang tua lebih proactive dan protective kepada anaknya, tidak lebih dari itu

Angry Birds


Waktunya bermain angry birds. Bukan bermain bongkar pasang, finger puppet, mobil-mobilan ataupun replika motor Harley Davidson yang akan rusak. Tujuanku mengenalkan kepada mereka agar mengetahui bahwa jenis permainan itu banyak, tidak hanya Ninja Saga, Car Town, ataupun Point Blank. Sebetulnya supaya mengalihkan perhatian mereka untuk mengurangi bermain di warnet dan memberikan kesempatan bermain sama halnya seperti anak lain. Mereka saling berebut untuk mendapatkan jatah bermain dengan durasi yang tidak ditentukan secara bergiliran. Meskipun mereka awalnya belum bisa bermain dan merasa kesulitan ketika langsung meyentuh note book karena aku memang terbiasa tidak menggunakan mouse sebagai alat bantu. Walaupun pada akhirnya si anak merasa tidak semuanya dapat mencoba permainan tersebut. Bahkan aku dicap pilih kasih kepada anak baru, karena lebih mendahulukan salah satu anak bertopi sekolah bernama Fauji. Padahal aku menyuruh hompimpa untuk menentukan siapa yang lebih dahulu namun anak lain tidak mau. Lagi-lagi aku terkadang sulit menghadapinya supaya merasa memperlakukan adil sama rata apapun yang aku berikan kepada mereka. Sangat banyak jenis permainan anak-anak yang bisa dimainkan secara online maupun offline.
Begitupun jenis masalah anak, kisah anak, dan segala permasalahannya yang aku sendiri belum bisa mengatasinya. Ada anak yang sudah atau sedang mengenyam dunia pendidikan, mereka patah semangat ingin berencana putus hubungan dengan dunia sekolah. Berbeda dengan anak yang sudah putus sekolah tapi ingin melanjutkan SMP namun ijazah SD yang masih ditahan sekolahnya terdahulu karena masih memiliki masalah pembayaran dan akan segera diproses
            Anak uring-uringan karena ibunya nangis belum makan, bapaknya marah-marah tanpa sebab, kakaknya sakit malaria. Arrgh! Lebih banyak lagi permasalahan mereka yang kutahu semua penyebab berakar dari kedua orang tua bermula dan bisa berkembang termasuk kepada jiwa si anak.
Kamu baru keluar? *pasang wajah segar setelah mandi
Ya. Mau ngamen dulu kak ke Cilegon
Kenapa kamu ngamen?
Kasihan mamahnya belum makan
Kamu bilang apa sama mamah?
Mah, Gilang berangkat dulu ya…
Nanti kamu kalo ngamen ajakin mamah
Buat apa?
Jangan seenaknya aja mamah nyuruh kamu cari uang
Lah, yang ngurus saya siapa?
Mamah kamu
Nah, sekarang yang ngurus mamah saya gantian!
Hmm,, Ya. Kemudian Akupun hanya bisa terdiam..
Makanya sekolah yang benar
Lah males belajarmah
Jangan dong!
Buat apa?
Nanti kamu pintar, bisa kayak, enggak usah ngamen.
Sampai akhir perbincangan, si anak gagal untuk ngamen karena lebih memilih bergabung bersamaku dan teman-temannya meski dengan keadaan enggak karuan sampai ingin menggadaikan gitarnya kepadaku dan teman-temannya sambil berteriak "hidup ini melarat amat ya Allah"
            Entah bagaimana doktrin apa yang orang tuanya berikan. Mamahnya berleha-leha menunggu anaknya mencari harta sungguh biadab! Aku tidak menyalahkan anak apalagi pemerintah. Begitu berbeda permasalahan dengan anak lainnya
Kamu kemaren ngamen?
Ya kak, hujan-hujan sama Sena
Dimana?
Di sini lampu merah kebon jahe
Katanya Sena udah berhenti ngamen?
Enggak. Kasihan kemaren itu Sena lagi sakit tapi maksain ngamen
Enggak kamu larang supaya jangan ngamen?
Udah. Cuma Senanya enggak mau, tetap pengen ngamen aja
Emang kamu bilangnya gimana?
Udah Sen, kamu jangan ngamen
Terus Senanya jawab apa?
Enggak apa-apalah uangnya pengen beli ban sepeda (sambil meragakan tubuh yang menggigil kedinginan memeluk erat tangannya  dengan bibir yang kelu mungkin sedikit membeku)
Ampun tuhan, apa salah mereka diumur yang masih belia merasakan beban yang tidak ringan

            Lain Sena, lain pula Robi anak mungil dan yang memiliki umur sangat muda diantara kalangan teman-temannya sekitar 7 atau 8 tahun yang belum memiliki pendirian teguh tentang masalah pendidikannya yang terbengkalai dan terancam selesai berakhir dengan tragis.
Rumah kamu dimana?
Deket sama Robi
Robi mana? enggak suka keliatan
Robimah anaknya enggak diurus
Emang kamu diurus?
Yalah
Sekarang Robi dimana?
Robimah ngamennya suka jauh aja (Palima, Balajara, Kalideres)
Robi katanya udah berhenti sekolah?
Ya.
Gimana ceritanya?
Gini nih, kan Robi ngamen, pulangnya digebukin sama bapaknya terus tasnya dibakar, bukunya dibakar
Kenapa?
Enggak tahu
Malam kemarennya juga tidurnya di kuburan
Sama siapa?
Sendiri
Kenapa enggak pulang ke rumahnya?
Takut dimarahin
Pantas saja, ketika aku berusaha memeluk tubuhnya yang kecil aku bertanya sambil menatap matanya
Robi, kamu masih pengen sekolah sayang?
Ya. Menjawab dengan wajah bingung dan mengiba
Aku bertanya kembali Robi masih pengen sekolah?
Enggak. Kenapa?
Cukup menggelengkan kepala yang mungkin dia tertekan hidup tanpa ibu, bapak yang meperlakukannya kasar, serta neneknya yang mungkin kedaannya sudah menua sehingga tidak memberi perhatian lebih kepada cucunya.

*semua percakapan di atas hasil ketika aku berbincang dengan Gilang, anak yang sangat berbeda dari anak lainnya. Berani, penurut, namun terkadang sulit diajak belajar, sering mamasang wajah murung, banyak tingkah, harus lebih bisa memahami keadaannya. Ketika temannya belajar, Gilang ingin bermain hpku, dengan langsung merebut dari tangan atau mengambil dari saku kantong celanaku. Saat teman bermain, dia bernyanyi memainkan gitarnya sambil menyandarkan tubuh ke tasku, itu masih lebih baik, terkadang saking sulitnya Gilang, aku mengikuti dia dengan belajar tidur-tiduran sampai guling-gulingan di rumput. Waktunya dibagikan makanan terkadang Gilang enggan, bahkan berebut, dan ingin mendapat jatah lebih banyak. Namun begitu, aku tetap berusaha merayu dan tibalah saatnya untuk menaklukan Gilang yang akhirnya mau belajar, yang pasti jangan kehabisan akal deh. Karena pada dasarnya Gilang anak yang normal, dan sering mangajakku bercanda. Ketika belajar, menyandarkan tubuhnya ke pundakku akupun membiarkannya. Bukan begitu saja, ternyata Gilang anak yang tidak disukai oleh banyak temannya, sehingga teman-temannya mau bergabung belajar dengan syarat Gilang tidak ikutan. Lagi-lagi bertambah tugasku untuk merayu anak mahluk yang saling bermusuhan sampai akhirnya aku memisahkan cara dan tempat belajar Gilang daripada temannya yang lain
Catatan: aku selalu berusaha masuk dunia mereka, dengan batasan dan caraku sendiri. Meskipun mereka terlihat anak baik, aku tetap harus selalu mengkondisikan dan mengendalikan keadaan.

             Untuk bapak Robi, kalau tidak ingin mengurus anaknya, ya jangan disiksalah pak,, apa karena kesempatan istri bapak sudah meninggal? Anak bapak nakal? Kesal melihat tingkahya yang sulit diatur? Kenapa tidak bapak titipkan saja di tempat penampungan anak? Pak, Aku belum mencoba memiliki suami, pasti aku belum penah merasakan bagaimana perjuangan berrumah tangga ketika mengharapkan memiliki anak yang tampan fisik badan, pandai berfikir, cerdas beribadah, baik dan bisa berbuat lebih daripada orang tuanya. Tapi pak, semua anak aku pikir tuhan tidak salah menciptakan ketika mereka anak-anak tak berdosa dilahirkan ke dunia untuk menjadi generasi penerus keluarga bapak, justru itu menjadi tantangan bapak untuk memperjuangkannya. Tidak ada anak yang nakal ataupun bodoh, semua kembali bagaimana pola pengasuhan dan pendidikan yang mereka dapatkan. Bapak jangan heran jika suatu saat anak bapak menjadi pencuri, pemabuk, pembunuh atau penghuni sel tahanan anak. Aku tidak niat untuk menasehati atau mengajari seolah aku lebih memahami kondisi keluarga terutama anak bapak. Tidak pak, aku bukan tuhan, gurunya Robi, temannya Robi, kakaknya Robi, adiknya Robi, ibu angkatnya Robi, ataupun apalah silsilah yang ada di dalam pohon keluarga. Mungkin ibu Robi di syurga mengira bapak dari anaknya dapat menjaga amanat yang sudah diberikan Allah. Mohon maaf berikanlah tanggung jawab lebih kepada anak kandung bapak dan terima kasih atas pengertiannya

*berfikir, entah kapan aku berani dan mengutarakan isi tulisan ini

Sehat itu nyaman. Tapi kadang buat kita lupa nikmat Tuhan.



Suka anak kecil? Anak-anak yang masih kecil. Peduli dengan mereka? (anak jalanan, anak memiliki kekurangan, kekurangan anggota badan, kekurangan anggota keluarga, kekurangan kepedulian dari lingkungan sekitar). Aku cinta dan suka, tentunya merasa iba serta ingin tahu jika para anak-anak yang hidupnya terlihat tidak lebih baik daripada anak biasanya. Siapa yang pernah sengaja berkunjung melihat tempat tinggal mereka? Entah itu tinggal di panti asuhan, pinggir jalan, rumah singgah atau rumah sakit.
Aku banyak mengetahui keberadaan kegiatan anak kanker bermula dari twitter Pandji Pragiwaksono yang sering banyak nge-tweet segala cerita bahagia dan duka yang diumbar di dalamnya. Dari situ aku memiliki hasrat ingin segera mengetahui
Bagaimana kondisi anak-anak yang ada disana?
Apakah mereka merasa bahagia karena dapat bertemu dengan idola yang diharapkan?
Mungkin mereka sangat tersiksa ketika harus ketergantungan minum obat dan tidak boleh sembarangan mengkonsumsi makanan?
Bagaimana kondisi keluarga mereka yang katanya kanker merupakan penyakit mengancam kehidupan?
Awalnya aku sudah mengutarakan keinginan kepada orang tua untuk mengunjungi Rumah Sakit Kanker Dharmais karena tidak jarang ketika aku pergi bersama keluarga melewati RSKD.
“Bu, pak, Ishmah pengen ke Dharmais”
“mau ngapain”?
“pengen liat anak-anak kanker
“kapan”?
“boleh enggak nanti pulang (ketika berada di kota yang melewati daerah slipi)”?
“boleh aja, tapi enggak janji ya? Gimana situasi perjalanan”
“ya. Nanti aja pulang dari Garut / besok pas ke Bekasi”
“ya”
“kalo enggak, kita mau ke Jakarta sempetin mampir sebentar”
“boleh”
            Hore! Mereka menyambut. Saat di perjalanan ternyata lagi-lagi gagal masuk ke RSKD *sedikit cemberut. Alasan perjalanan macet, kondisi penumpang di kendaraan yang tidak sabar ingin segera pulang karena lelah, serta waktu yang terbatas. Ibu mengerti bahwa aku marah memaksa ingin segera kesana. Akhir sedikit berdebat berbeda pendapat, dengan bijak bapak sengaja mengkosongkan jadwal kegiatan khusus mengantar aku melihat anak-anak kanker.

Rabu, 9 Maret 2011.
Niat ingin segera melihat keberadaan mereka berhasil dilaksanakan. Persiapan berangkat dari rumah diantar orang tua jam 07.00. mampir ke Modernland, kemudian melanjutkan perjalanan menuju salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta membeli sedikit mainan untuk diberikan kepada adik-adik pengidap kanker. 12.45 sampai di Slipi, melihat keadaan anak-anak di bangsal anak. Menjelajahi bangsal ruangan yang bermacam-macam nama. Ruang jerapah, ruang jagung, ruang ketimun, ruang kacang polong, ruang semangka, sampai ruang apel, dan nama-nama lainnya. Berbagai anak sedang merasakan bahwa dirinya sakit atau sedang tidak sehat. Tetapi wajah mereka terlintas seperti gembira. Padahal sebagian dari mereka  tangan diinfus, matanya diperban, mereka juga harus dikemoterapi atau thromboapheresis. Kanker merupakan penyakit genetik, pertama aku diantarkan relawan bernama kak Rani. Setiba di lokasi, aku langsung diajak melihat pasien upin atau  mas Adzi (ikon Dharmais) leukeumia. Ada juga anak yang meringis kesakitan seperti Ilham (kelenjar getah bening) sedang masa SMP setelah lulus dari SD dan belum melanjutkan masa SMA. Kemudian berjalan lanjut memasuki kamar anak perempuan mungil berusia belum sampai 1 tahun, dan Hildan kanker kelenjar bola mata, kedua matanya diangkat karena sudah menyerang otak. Lalu sempat bercengkarama bersama pasien bernama Wahyu, pada saat itu aku melihat Wahyu ngobrol via by phone dengan Pandji “Bepe kesini dong”! tetapi gagal, diujung telepon menjawab bahwa bepe belum bisa berkunjung ke RSKD. Sebenarnya aku merasakan gejolak jiwa berkecamuk ketika diperbolehkan memasuki ruangan isolasi dengan peralatan yang bisa dipantau setiap waktu. Masih ingin berlama main dengan anak-anak tersebut, namun sebagian dari mereka sedang istirahat siang. Disana fasilitasnya lengkap dan membuat mereka terlihat lebih nyaman. Ada ruang bermain, ruang perpustakaan ditambah jaringan internet. Mereka disana sekolah juga ditemani orang tua dan pengajar dari relawan.
Sakit kepala, sakit perut, sakit gigi. Ah, entah apa jenis sakitnya selagi kita bisa beraktivitas paksakan saja apalagi bagi manusia-manusia berjiwa muda. Kuatkanlah seolah raga badan kita sehat jika dibandingkan dengan mereka pengidap kanker mahluk yang ketergantungan obat. Motivasi semangat hidup mereka kuat. Kegiatan mereka tidak terhalangi meski harus menggunakan kursi roda atau masker. Aku memang manusia yang sehat fisik lahir batin, justru malu melihat anak-anak seperti mereka. Aku merasa sering terlena dengan kenikmatan yang Tuhan berikan, dengan berleha-leha, memiliki mata namun digunakan untuk hal yang seharusnya tidak dilihat. Memiliki tangan tanpa ada selang infus tapi terkadang disalah fungsikan dan belum merasa bersyukur. Bukan berarti kufur juga.. Ingin bertemu siapa? Keinginan mereka banyak yang dipenuhi. Tim dari YPKAI (Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia) atau relawan berusaha mewujudkannya. Tapi ingat, 8 dari 10 anak kanker bisa disembuhkan. Berarti bukan tidak sedikit pula anak yang tidak bisa diselamatkan karena meninggal dunia. Yuk berbagi…

Sudah saatnya mereka dirawat di syurga
Rabu minggu depannya tanggal 16 April membaca kabar melalui update status fb bahwa Hildan meninggal dunia. Aku ingat ketika kesana beruntung diberi kesempatan melihat alm. Hildan sedang istirahat tertidur pulas dengan wajah polos. Minggu-minggu berikutnya Wahyu meninggal dunia, tetapi sebelumnya impian bertemu dan berphoto bersama bepe tersampaikan ketika sedang launching buku “ketika jemariku menari” menurut photo yang aku lihat diakun fb, dan yang terakhir beberapa minggu selanjutnya Adzi meninggal dunia juga, terlintas dalam benak pikiran ketika alm. Adzi untuk pertama  dan terakhir  tentunya bertemu saat itu Adzi tidak ingin bersalaman denganku sampai menangis. Aku berharap semoga kalian lebih bahagia melanjutkan kehidupan di syurga, dan semoga anak-anak yang masih dirawat di bangsal lekas diberi kesembuhan meskipun tidak bisa dengan cara cepat dan butuh proses yang panjang bahkan sampai pengobatan yang menyakitkan terasa sampai badan. Mari kita do’akan kakak…
Ada 3 hal yang bisa dilakukan untuk membantu adik-adik kita yang terkena kanker:
1. cash: memberikan donasi yang dapat disetorkan langsung melalui Bank.
2. co-location: kalo kamu tidak punya dana untuk nyumbang, tapi punya waktu luang. Kamu bisa datang untuk menghibur adik-adik di Dharmais. J
3. communicate: kalo kamu tidak memiliki keduanya (money&time), kamu masih punya kesempatan untuk membantu kegiatan #C3 kepada teman-teman.

By: Ishmah Azhar