Sang Jagoan Jalanan-pun Lelah&Menyerah


Bersama Angin Beralaskan Ilalang Kami Bermain
Hidup di jalan katanya memang kejam
Hidup di jalan katanya sulit bertahan
Hidup di jalan katanya tidak bisa diandalkan
Hidup di jalan katanya banyak godaan
Hidup di jalan katanya tanpa memiliki beban
Mereka seolah diperbudak buruknya kehidupan
Mereka seperti diperalat bejadnya pertemanan
Mereka seakan dipermainkan mata uang
Mereka ternyata memikirkan masa depan
Mereka pasti memilki angan-angan
Saat mereka berdusta aku merasa tak dipercaya
Saat mereka kasar aku berusaha tidak melawan
Saat mereka rindu akupun sama menggebu
Saat mereka gelisah akupun terkadang gundah
Saat mereka bersalah aku berusaha memaafkannya
Aku pernah marah
Tapi aku berusaha berada di dekat lampu merah
Aku hampir melupakan
Tapi aku tetap menunggu sambil melirik keadaan lapangan
Aku bahkan kecewa
Tapi aku berusaha selalu mendo’akan mereka
Aku sejenak melupakan
Tapi aku sulit untuk tidak melintasi badan jalan
Aku mencoba menghindar
Tapi aku belum bisa menjauhinya
Akhirnya mereka ingin segera sekolah
Akupun tertawa karena bahagia
Akhirnya mereka mengejar ketertinggalan
Akupun meyakinkan mereka mampu mencapai impian
Akhirnya mereka perlahan mulai berubah
Akupun masih tetap menunggu jagoan pembaharuan
Akhirnya mereka ingin untuk tetap bersama
Akupun berusaha siap menjaganya
Akhirnya mereka bisa mengakui kesalahan
Akupun sama terus mengurangi kesalahan agar tak terulang

-09-15-2012. 02.45. Tengah Larut Malam-

Usia Belia Menuju Remaja




              Memperlakukan anak yang hidup di jalanan tidak mudah, namun bukan berarti sulit pula. Anak semacam mereka butuh pendamping ekstra. Ekstra hati-hati, ekstra sabar, tentunya butuh ekstra waktu yang lebih lama untuk memasuki, mengenal, dan membuat saling nyaman satu sama lain. Dunia mereka sudah berbeda, bukan sama seperti anak lainnya yang hidup normal. Mereka bisa menjadi anak yang berfikiran kotor, berkata kasar, bertingkah brutal, bersikap anarkis, berani bertindak nekat, sampai otak mereka pun dibuat rusak. Semua dilakukan dengan sadar terlepas bagaimana cara anak tersebut dibesarkan oleh lingkungan pertemanan. Kebanyakan dari mereka awalnya butuh sejuta rayuan untuk bisa belajar, diberi makanan pun mereka belum tentu mau bergabung, hingga diberi mainan terkadang sulit untuk menaklukan hati mereka.
            Pertama aku memasuki dunia jalanan mereka anak-anak pengamen jalanan terlihat baik-baik saja, tidak banyak bebeda dari anak lainnya yang seumuran. Mereka sekilas manis, penurut, terkadang manja. Tetapi setelah 1 tahun 27 hari, semua mampu kurasakan. Banyak yang berbeda dan berubah dari mereka. Awalnya mereka masih polos, sekarang mereka sudah banyak tercampur pengaruh buruk, mungkin juga didominasi usia yang akan segera beranjak melewati masa remaja. Karenanya tidak heran ketika pertama bertemu anak berbadan mungil dan berusia kanak-kanak meminta ingin kawin serta mengeluh tidak mau melanjutkan sekolah. Ketika cara bersalaman pun si anak berbeda, setelah menggenggam tangan kemudian menciumnya seperti tidak lazim. Hingga anak-anak ada yang melontarkan pertanyaan "nanti kalo kak Azhar udah nikah lupa ya sama kita"? Sejauh itukah pemikiran mereka diantara anak-anak kisaran kelas 4-5 SD.
            Selama ini, aku berusaha memperlakukan mereka semua secara adil. Tidak boleh ada salah satu yang merasa dijadikan anak emas. Namun, setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda dan mereka belum memahaminya, seperti:
1.    Anak ditinggalkan orang tua meninggal, membutuhkan kasih sayang lebih
2.    Anak ditinggalkan orang tua berpisah, membutuhkan perhatian khusus
3.    Anak memasuki dunia pendidikan, membutuhkan dukungan&dana tambahan
4.    Anak meninggalkan dunia pendidikan, membutuhkan motivasi&kepercayaan
5.    Anak korban kekerasan membutuhkan belaian penghargaan&hiburan mainan
Aku sering spontan melihat anak-anak baru bertemu atau sudah lama sering bertemu untuk bersalaman, berpelukan/ berciuman dalam tahap yang wajar. Tapi terkadang aku khilaf melakukan tindakan yang sama kepada anak jalanan seperti anak–anak kecil pada umumnya. Seperti melakukan sentuhan ketika mereka sulit diatur dan terlihat ingin dimanja. Aku tidak sering ketika merayu mereka belajar menaruh tangan dipundak salah 1 anak, atau ketika ada yang bertengkar, aku melerai sambil memeluk punggung mereka untuk meredakan emosi. Aku tersadar, lagi-lagi mereka semua anak yang tidak boleh disamakan seperti anak yang memiliki kehidupan normal. Aku pikir mereka diperlakukan seperti itu tidak ada reaksi yang berlebihan. Namun, setelah diamati ada salah  1 anak yang terkadang sedang belajar atau saat berjalan kaki, sambil bersandar di pundak atau anak yang sulit belajar tiba-tiba berani mengambil ponsel yang ada di saku karena memang sudah terlihat keluar sehingga si anak tidak merogoh ke dalam. Aku anggap awalnya biasa, hanya bagian dari candaan. Tetapi mulai sekarang aku harus mengurangi atau berhenti melakukan sentuhan yang mungkin sedikit dianggap berlebihan. Karena mungkin mereka akan, sedang atau sudah melewati masa pubertas.  Sehingga perlakuan aku atau si anak tampakkan khawatir disalah artikan. Sangat dimaklumi apapun yang dilakukan si anak karena hidupnya tidak banyak diarahkan ke jalan yang benar sesuai usianya. Orang tua asik dengan pasangan barunya masing-masing, sibuk mengurusi karir ke negara tetangga menjadi budak yang tidak kalah mulia daripada membimbing anaknya menjadi generasi penerus yang hebat serta terhormat.

Fanta (si) Anak




Dunia anak-anak, anak remaja, anak dewasa, wanita jadi-jadian atau bukan pria sungguhan hingga usia muda-tua aku yakin pasti memiliki dunia khayalan. Mereka semua bisa bebas berfantasi apapun yang dibayangkan. Terutama anak-anak yang bisa merekayasa terkadang diluar nalar batas normal. Seperti yang dikatakan salah satu adik jalanan bernama Sofyan. Banyak cerita yang oleh si anak diutarakan kepada mamahnya khususnya tentang kedekatan ketika bersama denganku.
Pertemuan sore kemarin aku besama teman-teman berkunjung ke rumah Sofyan dengan tujuan membicarakan kelanjutan pendidikan paket A dan ingin melihat keadaan tempat tinggal keluarga adik-adik jalanan yang sesungguhnya. Dimulai dengan pembicaraan tentang kepribadian Sofyan, permasalahan tentang adik-adik jalanan, sampai becerita banyak tentangku. Kemudian seketika aku bertanya

Sofyan suka cerita tentang saya bu?
“Ya, kalau pulang pasti cerita. Sofyan banyak cerita sama saya tentang kak Azhar katanya mah, ketemu teteh kampus orang baik pada cantik-cantik lagi, Sofyan dikasih buku, alat tulis”
Aku menimpali sambil sedikit tertawa


MS      : (Mamah Sofyan) “Siapa kak Azhar itu”?
S         : (Sofyan) “Mah, kak Azhar itu orangnya asyik, Sofyan suka dikasih makanan, disuruh sekolah lagi ikut paket (paket ujian A untuk anak SD). Nantimah nanyalah sama kak Azhar kelahiran tahun berapa. Nanti Sofyan sama teman-teman yang lain mau ngumpulin bikin kejutan”
MS     : Pernah dia ke rumah mukanya jutek. “Kenapa Sofyan”?
S        : “Kak Azharnya sombong, pilih kasih”! terus Sofyan bilang, teman-teman besok jangan mau ada yang kesini lagi!
Ya bu, karena waktu itu saya lagi ngurusin Didin mau ikut paket, jadi sementara merekanya enggak saya perhatiin. Pusing juga, banyak yang ngomong saya bingung nanggepin yang mana dulu.
MS      : jangan begitu, kan yang diurusin kak Azhar banyak bukan ngurusin Sofyan aja..
S         : “mah, Kak Azhar ngajakin ke rumahnya. Wah, di rumahnya gede, banyak mobil”.
M S     : “Terus gimana, ketemu ibunya kak Azhar”?
S         : “Di rumahnya tinggal sendiri”.
MS     : “masa rumah gede tinggal sendiri”?
S        : “Ya mah. Terus Sofyan disana makan enak, kata kak Azhar makannya di atas meja makan jangan di bawah. Eum, mah pokoknya enak. Disana ada kolam renangnya”
MS      : “Kamu renang enggak”?
S        : “Enggak mah. Terus Sofyan bilang sama kak Azhar. Kak jangan naik mobil Avanza, naik mobil sedan aja. Terus kak Azharnya jawab. Kalau yang itu bukan punya kak Azhar, punya kakek. Sofyan naik sedan, enak mah”..
MS      : “Terus abis makan ngapain lagi”?
S         : “Udah, pulang. Nanti mau jalan-jalan sama kak Azhar”
MS     : “nanti kamu kalau ke rumah orang harus sopan”
S        : “Gimana mah ya, kalau kak Azhar main ke rumah Sofyan malu kayak begini”

Aku menjawab, ah ibu enggak apa-apa sama aja.. Akupun menyimak dan menanggapi, bohong. Aduh bu, itu semua rekayasa Sofyan. Kalau begitu, itumah istana presiden bukan rumah saya. Hehe…
Ya, suka saya tanggepin aja, karena dia suka dilebih-lebihin kalau cerita.
Ya bu, enggak tahu kenapa adik-adik jalanan temennya Sofyan sering bilang sama saya
“kak, main ke rumah kakak yuk”?
“Mau ngapain? Di rumah saya enggak ada mainan”
“Mau makan-makan”
“Makan sama apa”?
“Sama ayam goreng. Nantilah kak Azhar pulang kita ikutin dari belakang”
Janganlah..

Bukan aku tidak mau dikunjungi adik-adik jalanan. Tetapi sesungguhnya dari awal aku lebih berhati-hati menjaga jarak termasuk tidak memberi identitas asli khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena disaat sekarang ini, aku belum bisa membedakan mana orang yang tulus pura-pura baik atau benar-benar  jahat. Tak jarang adik-adik jalananpun bertanya langsung atau melalui pesan singkat “rumah kakak dimana sih? Blok apa nomer berapa"? Aku terkadang berfikir, "apa yang sebenarnya mereka inginkan ketika berada di rumahku? Apakah benar ingin makan karena kelaparan? Ingin menguji kebaikanku? Atau apapun alasannya belum bisa aku terima".

Anak-anak juga tidak jarang mengajakku jalan-jalan
“Kak, nanti libur sekolah jalan-jalan yuk”?
“Kemana”?.
“Renang”
“Dimana”?
“Water park di Tembong”.
“Dimana Tembong”?
“Ya Allah, tinggal dimana sih? Tembong aja enggak tahu. Itutuh, kalo dari sini lurus”
“Tapi naik mobil kakak ya”?
“Enggak ah”..

Ada juga yang ingin main-main
"Kak, katanya mau jalan-jalan"? 
"Kata siapa? Saya enggak pernah ngomong"
"Kata tema-teman"
"Mau ngapain"?
"Jalan-jalan aja kak, muter-muter Royal (nama daerah tempat berkumpulnya penjual dan pembeli). naik mobil kakak".
Huh! aku menarik nafas tidak lega.

 
Aku tidak menyalahkan apapun yang anak sedang pikirkan kemudian mereka ungkapkan. Meskipun  terkadang seperti tidak terjangkau apabila yang dilakukan atau diutarakannya melewati batas akal sehat. Hanya saja membuat mereka anak-anak menjadi penikmat dunia khayalan yang tidak baik jika terlalu kebanyakan atau berlebihan.

 

Ice Cream Tub



Nanti ismah beliin anak-anak jalanan roti sejenis kartika sari ya? Jangan! Mereka nanti keenakan. Itulah alasan keluargaku. Aku memang bukan anak yang sering dididik dengan sesuatu yang instan. Akhirnya aku diam-diam membelikan roti kering kartika sari untuk anak jalanan. Tapi apa reaksi anak-anak setelah memakan? “Yah ka, inimah roti apa kali, enggak enak mendingan uangnya aja”. Aku menimpali “Ya kamu, ini roti kering rasa keju”. Tadinya mau roti basah tapi lagi enggak ada. Baru sekarang, makanan sebegitu enaknya, kebanyakan mereka tidak suka sampai bersisa daripada biasanya yang kadang malah kurang jika sedang kelaparan.
3 minggu berlalu. Aku berniat membelikan ice cream. Sudah kurencanakan lama, kupersiapkan 1 sendok yang dipendam di dalam tas karena lagi-lagi swalayan yang dikunjung tak juga menjual ice cream walls tub yang ukurannya lebih besar dari ice cream campina tub dengan alasan stock lagi kosong belum dikirim barang. Akupun harus lebih bersabar untuk menunggu.
19-Februari-2012
Aku berjalan menuju mini market, ternyata benar ice cream yang kucari tak ada. Akhirnya aku membelikan ice cream yang berbeda merk. Tujuannya mengapa? Aku bukan ingin memanjakkan mereka, mengenalkan kepada mereka sesuatu yang enak.  Aku fikir rasanya tidak salah-salah banget, jika memiliki harta lebih aku niat dan berkesimpulan berarti itu rezeki jatah mereka yang Tuhan berikan melalui aku. Aku ingin menyuapi mereka secara bergilir dan membersihkan menggunakan tisu, tangan atau mulut mereka ketika acak-acakan makan.  Daripada harus mengelap menggunakan baju, sampai menjilati tangannya. Aku tahu ukuran sendok untuk ice cream yang diberikan penjual hanya sendok plastic berukuran kecil dan itu membuat mereka anak-anak tidak merasa puas ketika menikmati suapan. Aku faham, makan es tidaklah membuat perut kenyang, justru mulut akan merasa haus. Reaksi yang sekarang berbagai jawaban “yah ka, sayamah daripada yang begini, mendingan yang Rp2.000-an”. Aku sengaja memberikan mereka bukan ice cream gagang, supaya melalui ice cream tub mereka bisa lebih berbagi kepada temannya, jangan egois atau serakah. Ketika kubuka tutup es tersebut, mata anak-anak tertuju pada si air beku 3 rasa, bahkan salah 1 dari mereka ada yang menjilati tutup es. Jangan! ujarku. Aku mengeluarkan sendok dari tas sambil berkata “saya suapin ya?:. Mereka lagi-lagi berkomentar. “Dih ka, janganlah malu sayamah udah gede, bukan anak-anak lagi”. “Enggaklah kak sendiri aja”. Tapi dari 5 anak, hanya 3 yang mau aku suapi.
Yes! Berhasil, meski awalnya malu-malu tapi pasti mau. Sampai temannya greget tidak ingin disupai tapi ingin cepat langsung menyantap namun lama menunggu giliran. “Ya udah sini saya aja ka, susah amat”. Jika saya memberikan makanan kepada mereka diusahakan sesuai urutan absen nama dari abjad A. Aku beralasan dan berkata pada mereka, menyuapi kamu karena saya sayang kalian. Kalian jangan punya pacar. Kakak juga enggak punya, mending nanti langsung nikah aja. #eh. Kupercaya ada beberapa anak yang sudah beranjak mengalami masa puber, sehingga diperlukan pendidikan seks supaya menghindari penyimpangan yang mereka tidak banyak tahu. Hingga salah 1 dari mereka anak kelas 4 SD berkata
“kak, sayanya mau malem mingguan nih”.
“sama siapa?”
“sama pacar saya”
“Siapa”?
“Tapi pacar sayanya enggak suka sama saya”.
Janganlah, kamu masih kecil, pacaran itu capek dan dosa #loh.
(Pacaran itu tidak memberikan kepastian hanya kesenangan angan belaka, membuat ketagihan, dan menumpuk-numpuk dosa yang tak terasa serta membuat terlena)
Bahagia tak terhingga rasanya tertawa, bercerita tanpa batas bersama mereka. Hampir tidak pernah ketika membagikan makanan aku makan bersama mereka. Bukan aku tidak mau, melihat saja rasanya sudah kenyang. Seketika juga kulupa meski aku dan mereka tidak sama usia, jenis kelamin, tetapi aku tidak merasa berbeda latar belakang keluarga, pendidikan, apapunlah. Aku tidak jijik pada mereka, tapi harus lebih hati-hati karena dunia pergaulan mereka lebih ekstrim dariku. Meski anak-anak lugu, mereka terlalu cepat mengenal dunia dewasa dan sangat bahaya. Karena mereka dapat langsung sesuatu baru yang dipengaruhi temannya serta mungkin dianggap enak sesaat yang terkadang sesat.
Makanan ringan sampai berat yang kusediakan atau teman-teman yang dibawa beragam macam, jenis, ukuran serta rasa. Yang pasti harus dibagi sama rata. Ada teman yang memberikan tango dan TOP sachet dengan jumlah banyak, namun begitu dicoba rasanya sudah kurang enak padahal masa kadalursa belum berlaku. Entahlah, anak-anak pun mengeluh, tapi sambil memakan sampai habis. Pernah juga ada pemudi dan pemudi katanya dari organisasi NU apalah, bagi-bagi makanan di jalan. Menghampiriku membagikan roti bakar yang ditaburi mesis dibungkus plastic. Aku mengucapkan terima kasih. Tetapi lagi-lagi anak menunjukkan wajah yang kurang tidak suka, tapi habis juga tak bersisa.
Aku merasa bingung ketika waktunya membagikan makanan, karena ada anak yang suka atau tidak suka serta dilihat pula dari anggaran keuangan yang ada. Begitupun saat memberikan metode pangajaran yang dianggap mudah, nyaman, serta tidak sulit dipahami. Ketika temanku mengajari anak-anak menggambar, pertemuan selanjutnya mereka mengeluh “kak, pengen belajar matematika. Jangan kayak kemaren belajar ngegambar kayak anak TK”. Memang kuakui, terkadang memperlakukan mereka seperti anak-anak, karena kebanyakan mereka belum menginjak masa remaja.

Diaku (i)



Mulai, selama, dan sampai saat ini saya dekat dengan semua jenis anak-anak karena memang atas dasar saya suka dan jatuh cinta sama mereka serta tentunya dilandaskan niat baik. Anak jalanan, awalnya saya berencana ingin menuliskan kisah kehidupan mereka, karena belum pernah melihat/ membaca buku karya anak Indonesia kisah nyata tentang anak jalanan. Baru membaca buku street boys, itupun buku hasil translate. Tetapi makin lama saya masuk dunia mereka, semakin banyak anak-anak jalanan yang hidupnya mungkin tidak diperhatikan keluarga. Akhirnya saya inisiatif mengajak teman untuk membuat program belajar mengajar di jalanan. Dengan membuat perjanjian bersama mereka
1.    Belajar membahas PR sekolah
2.    Bermain, membaca buku & memberikan kesempatan anak berkeluh kesah
3.    Makan. Mencicipi makanan yang telah disediakan atau sesuai keinginan anak-anak
Merencanakan sebuah program tidak mudah. Dibutuhkan manusia, waktu, biaya tentunya tenaga. Ada saja alasan mengajar anak jalanan gagal, baik dari saya sendiri, keadaan cuaca, murid atau para pengajar. Ketika mereka datang terlambat karena ngamen, atau tidak membawa alat tulis, saya tidak bisa banyak membuat peraturan supaya mereka disiplin. Karena saya bersama teman bukan membuat seperti sekolah resmi, dan tidak ada hak kami untuk memberi hukuman. Berjalan 6 bulan saya masuk pergaulan anak jalanan, sangat banyak, dan tidak sedikit permasalahan kehidupan mereka. Saya tidak ingin dihargai, dihormati oleh orang tua dari anak-anak jalanan. Mereka tidak dipungut untuk mengucapkan terima kasih, berbalas budi atau apapunlah ungkapan sejenisnya. Saya tidak suka kepada orang yang mempekerjakan anak kecil. Ada sedikit niat ingin sosialisasi kepada orang tua dari anak-anak mereka, tapi setelah dipertimbangkan mungkin belum ada waktu yang tepat untuk saya bertemu dari orang tua mereka. Saya memang orang lain bagi anak-anak jalanan, karena tidak ada ikatan darah kekeluargaan.

19-Februari-2012, 14.10
Mengalami 2 kali percakapan bersama 2 orang tua yang berbeda tanpa rencana. Saya menghubungi Fauji untuk memastikan jika hujan masih mengguyur deras, maka program belajar ditunda sampai minggu depan. Kurang lebih beginilah isi percakapan
Ass.. faujiny ada?
Enggak ada lagi kemana tadi itu yah, ngeropok katanya
Apa? Ngerokok?
Bukan. Muludan
O.. saya kira ngerokok
Ini siapa?
Saya Azhar
Ya, yang Fauji bilang itu. Katanya kemaren sore mau ketemu kak Azhar.
Ya pak, saya
Pak, Fauji ngamen pengen sendiri?
Enggak tahu saya juga. Kalo sama saya dilarang ngamen
Ya pak, di jalan itu bahaya apapun bisa terjadi apalagi enggak kekontrol sama orang tua. Bisa diculik, dibunuh, disodomi, mutilasi kayak ditv *sambil nakut-nakutin*
Ya neng, saya juga gitu. Ting-bating ya.
Ya pak, tapi itu punya gitar?
Itumah saya ngebeliin udah lama waktu Fauji kelas 2 katanya pengen belajar music.
Tapi kata Fauji gitar dapet patungan ngebeliin bapak sama Fauji?
Enggak neng. (Entahlah siapa yang benar-benar berbohong)
Kalo hp pak, katanya dapet patungan juga?
Bukan, itu saya ngejual motor butut. Fauji pengen punya hp yang bagus bisa internetan, saya beliin yang jadul.
Masih kecil pak, buat apa hp?
Buat ngehubungin saya. Karena saya pulang kerja malam
Hmm,, ya pak.
Saya bilang, kamu hidup harus bersyukur, apa adanya, emang saya belum bisa ngebahagiain anak saya
Ya pak, enggak apa-apa
Kemaren magrib juga ketemu sama saya pulang kerja di lampu merah kebon jahe, saya marahin Fauji “pulang kamu”!
Emang kemaren Fauji bilang sama saya belum dapet uang, pengen nyari dulu
Gini neng, padahal Fauji uang jajan saya kasih, biaya sekolah, bayaran saya yang bayarin
Ya pak, Fauji bilang uangnya buat ditabung. Nanti perpisahan sekolahnya juga mau ke Dufan Atlantis Rp250.000. uangnya baru ada Rp100.000,-
Kalo itu saya enggak tahu neng
Saya juga udah bilang, Fauji berhenti ngamennya. Emang enggak ngeganggu mau ujian?
Dia bilang ngeganggu. Ya ini juga mau berhenti.
Anak tuh enggak ngehormatin, saya pengennya pulang kerja anak ngaji, shalat, saya suka kesel tak marahin.
Janganlah pak, namanya juga masih anak-anak..
Bener aja neng, sayamah udah banting tulang anak kayak begitu saya jengkel sampe tak (pokonya perlakuan yang tidak baik untuk dicontoh)
Ya pak, emang kalo ibunya enggak suka ngeh ya, kalo Fauji pulang sekolah pergi keluar rumah bawa gitar?
Enggak tahu tuh ibunya.
Ya pak, mana di jalanan ngeri. Kebanyakan semua teman Fauji udah pada pernah ngerokok
Fauji ngerokok juga?
Enggak pak, (maaf saya berbohong) padahal pengakuan Fauji sudah pernah. Tak terbayang jika saya menjawab ya
Awas aja kalo ketahuan saya udah dimarahin, digampar
Fauji itu anak yang baik, diantara temannya. Dia ketemu saya suka salam, polos
Emang dia anaknya polos. Maaf ya neng, saya suudzon, maaf aja. Saya bilang siapa kak Azhar itu? Jangan sembarang ikut mau diajak sama orang. Awas kamu hati-hati diracun.
Ya pak enggak apa-apa, namanya juga orang yang belum kenal. Kalo saya niatnya baik
Ya neng, saya kira kak Azhar laki-laki. Fauji bilang kak Azhar baik, suka ngasih makanan
Hehe.. karena emang saya suka sama anak-anak. Pengen aja belajar, main, makan bareng
Jadi bener belajar itu?
Benar pak.
Kata saya, kak Azhar itu seperti apa? Kayak gimana orangnya? Baru denger suaranya ditelpon
Hehe.. saya sih pak awalnya pengen nulisin cerita kehidupan anak jalanan. Terus saya pikir enggak salah kalo barengan teman, kita belajar bareng sama anak jalanan
Setiap hari apa aja? Dimana? Rumahnya dimana?
Jum’at, sabtu-minggu sore di PT PERTANIAN PERSERO. Rumah saya di Perumnas-Ciracas
Ya neng, ya maaf udah ngerepotin, ngebebanin neng. Nantimah tolong aja ke Fauji, ajarin yang baik, berhenti ngamen
Ya pak enggak apa-apa, saya juga suka main sama anak-anak panti asuhan, SLB, kanker dll *alasan supaya menguatkan saya enggak ada niat buruk
Neng suka ke panti asuhan? Mulia neng ya..
Hehe.. ya pak kadang-kadang. Makasih pak, maaf ganggu. Tolong kasih tahu Fauji aja, kalo hujan berhenti berarti jadi belajar
Ya. Maaf neng udah ngebebanin. Lagi-lagi bicara seperti itu
Ya enggak apa-apa, makasih pak
Ya, ass..
Wass.
*tutup telpon* ternyata selesai 29.09 setengah jam kurang 51 detik

Nah, percakapan seperti ini yang tidak banyak saya harapkan. Karena pernah ketika saya nelpon Fauji, yang mengangkat ibunya. Ibunya tidak bertanya “ini siapa? bagaimana anak saya? Tahu dari mana?" Maksud saya, tidak salah jika ibunya lebih perhatian kepada anaknya seperti bapaknya ketika bebicara melalui telpon.

18.45
Sebelum selesai acara bersama anak-anak, seketika ada ibu-ibu sambil menggendong anak dan memarahi di depan anak yang dicarinya ketemu.
Pulang kamu!!  Bilang kalau mau nginep ke rumah teman! Bapak nyariin kamu dari semalem. Udah nanti kamu enggak usah nginep di rumah teman lagi! *sambil melotot dengan urat keluar* kesal tapi dengan cara yang salah
*saya menghampiri&cium tangan* kenapa bu?
Ini anak (inisial S F) nginep di rumah temannya semalem enggak ngasih tahu
Ko bisa bu?
Enggak tahu, dari kemaren jam 10 pagi ditunggu sampe malem enggak pulang-pulang.Ya saya cari, ini juga abis nyari.
Bu, S ko ngamen?
Ya dia itu pengen jajannya besar, udah saya marahin jangan ngamen
Dari kapan bu, S ngamen?
Dari kelas 4 SD
Pertamanya gimana bu?
Awalnya dia ikut-ikutan temannya
Ya bu, di jalan bahaya pergaulannya juga
Ya, saya pernah nemuin ditumpukkan bajunya pil?
Pil apa bu? (Bergaya enggak tahu& khawatir salah ngomong)
Macem pil KB
*kata teman saya maksudnya narkoba* hmm.. namanya pil apa bu?
Pil nipam.
Astagfirullah. punya siapa bu? berusaha tenang, tidak menyalahkan walau sedikit kaget
Dia bilang punya temannya
Katanya S ngerokok bu?
Tapi katanya udah enggak, aduh saya capek
Terus itu bu, S ko putus sekolahnya kenapa?
Dia enggak mau ikut Ujian
Berarti sekarang kalo sekolah dia kelas berapa?
Kelas 2 SMP
Ko bisa enggak mau ikut ujian gimana ceritanya?
Kan dia pulang sekolah bawa kertas, terus nangis saya tanya kenapa? Dia bilang enggak mau ikut ujian, gurunya juga udah ngajakin
Sekarang dia mau sekolah lagi enggak?
Dia enggak mau ngulang
Loh, kalo di sekolah lagi harus ngulang kelas enamnya bu ya? karenakan enggak ikut ujian
Ya. Kalo saya enggak apa-apa dia sekolah, tapi masuknya siang soalnya pagi ngasuh jagain adiknya
Hmm. Ya bu, sayang kalo harus putus sekolah
Saya udah capek marahin aja *mata sedikit melotot dan urat sudah mulai melemas*
Terus saya kapan bisa ke SD S? kalo besok gimana? Insya allah saya urusin
Ya udah enggak apa-apa. Makasih neng udah perhatiin anak saya
Ya bu, sama-sama


Kurang lebih seperti di atas percakapan bersama orang tua anak jalanan. Justru saya dari awal lebih lega dan terbuka ketika apa yang saya kerjakan diketahui oleh ibunya. Bukan saya minta diakui, ingin dipuji dan lainnya. Agar supaya saya ada kebebasan saat melakukan apapun kepada si anak. Saya juga banyak pengalaman ketika dekat dengan berbagai macam orang tua dari berbagai anak. Saya ingin orang tua lebih proactive dan protective kepada anaknya, tidak lebih dari itu

Angry Birds


Waktunya bermain angry birds. Bukan bermain bongkar pasang, finger puppet, mobil-mobilan ataupun replika motor Harley Davidson yang akan rusak. Tujuanku mengenalkan kepada mereka agar mengetahui bahwa jenis permainan itu banyak, tidak hanya Ninja Saga, Car Town, ataupun Point Blank. Sebetulnya supaya mengalihkan perhatian mereka untuk mengurangi bermain di warnet dan memberikan kesempatan bermain sama halnya seperti anak lain. Mereka saling berebut untuk mendapatkan jatah bermain dengan durasi yang tidak ditentukan secara bergiliran. Meskipun mereka awalnya belum bisa bermain dan merasa kesulitan ketika langsung meyentuh note book karena aku memang terbiasa tidak menggunakan mouse sebagai alat bantu. Walaupun pada akhirnya si anak merasa tidak semuanya dapat mencoba permainan tersebut. Bahkan aku dicap pilih kasih kepada anak baru, karena lebih mendahulukan salah satu anak bertopi sekolah bernama Fauji. Padahal aku menyuruh hompimpa untuk menentukan siapa yang lebih dahulu namun anak lain tidak mau. Lagi-lagi aku terkadang sulit menghadapinya supaya merasa memperlakukan adil sama rata apapun yang aku berikan kepada mereka. Sangat banyak jenis permainan anak-anak yang bisa dimainkan secara online maupun offline.
Begitupun jenis masalah anak, kisah anak, dan segala permasalahannya yang aku sendiri belum bisa mengatasinya. Ada anak yang sudah atau sedang mengenyam dunia pendidikan, mereka patah semangat ingin berencana putus hubungan dengan dunia sekolah. Berbeda dengan anak yang sudah putus sekolah tapi ingin melanjutkan SMP namun ijazah SD yang masih ditahan sekolahnya terdahulu karena masih memiliki masalah pembayaran dan akan segera diproses
            Anak uring-uringan karena ibunya nangis belum makan, bapaknya marah-marah tanpa sebab, kakaknya sakit malaria. Arrgh! Lebih banyak lagi permasalahan mereka yang kutahu semua penyebab berakar dari kedua orang tua bermula dan bisa berkembang termasuk kepada jiwa si anak.
Kamu baru keluar? *pasang wajah segar setelah mandi
Ya. Mau ngamen dulu kak ke Cilegon
Kenapa kamu ngamen?
Kasihan mamahnya belum makan
Kamu bilang apa sama mamah?
Mah, Gilang berangkat dulu ya…
Nanti kamu kalo ngamen ajakin mamah
Buat apa?
Jangan seenaknya aja mamah nyuruh kamu cari uang
Lah, yang ngurus saya siapa?
Mamah kamu
Nah, sekarang yang ngurus mamah saya gantian!
Hmm,, Ya. Kemudian Akupun hanya bisa terdiam..
Makanya sekolah yang benar
Lah males belajarmah
Jangan dong!
Buat apa?
Nanti kamu pintar, bisa kayak, enggak usah ngamen.
Sampai akhir perbincangan, si anak gagal untuk ngamen karena lebih memilih bergabung bersamaku dan teman-temannya meski dengan keadaan enggak karuan sampai ingin menggadaikan gitarnya kepadaku dan teman-temannya sambil berteriak "hidup ini melarat amat ya Allah"
            Entah bagaimana doktrin apa yang orang tuanya berikan. Mamahnya berleha-leha menunggu anaknya mencari harta sungguh biadab! Aku tidak menyalahkan anak apalagi pemerintah. Begitu berbeda permasalahan dengan anak lainnya
Kamu kemaren ngamen?
Ya kak, hujan-hujan sama Sena
Dimana?
Di sini lampu merah kebon jahe
Katanya Sena udah berhenti ngamen?
Enggak. Kasihan kemaren itu Sena lagi sakit tapi maksain ngamen
Enggak kamu larang supaya jangan ngamen?
Udah. Cuma Senanya enggak mau, tetap pengen ngamen aja
Emang kamu bilangnya gimana?
Udah Sen, kamu jangan ngamen
Terus Senanya jawab apa?
Enggak apa-apalah uangnya pengen beli ban sepeda (sambil meragakan tubuh yang menggigil kedinginan memeluk erat tangannya  dengan bibir yang kelu mungkin sedikit membeku)
Ampun tuhan, apa salah mereka diumur yang masih belia merasakan beban yang tidak ringan

            Lain Sena, lain pula Robi anak mungil dan yang memiliki umur sangat muda diantara kalangan teman-temannya sekitar 7 atau 8 tahun yang belum memiliki pendirian teguh tentang masalah pendidikannya yang terbengkalai dan terancam selesai berakhir dengan tragis.
Rumah kamu dimana?
Deket sama Robi
Robi mana? enggak suka keliatan
Robimah anaknya enggak diurus
Emang kamu diurus?
Yalah
Sekarang Robi dimana?
Robimah ngamennya suka jauh aja (Palima, Balajara, Kalideres)
Robi katanya udah berhenti sekolah?
Ya.
Gimana ceritanya?
Gini nih, kan Robi ngamen, pulangnya digebukin sama bapaknya terus tasnya dibakar, bukunya dibakar
Kenapa?
Enggak tahu
Malam kemarennya juga tidurnya di kuburan
Sama siapa?
Sendiri
Kenapa enggak pulang ke rumahnya?
Takut dimarahin
Pantas saja, ketika aku berusaha memeluk tubuhnya yang kecil aku bertanya sambil menatap matanya
Robi, kamu masih pengen sekolah sayang?
Ya. Menjawab dengan wajah bingung dan mengiba
Aku bertanya kembali Robi masih pengen sekolah?
Enggak. Kenapa?
Cukup menggelengkan kepala yang mungkin dia tertekan hidup tanpa ibu, bapak yang meperlakukannya kasar, serta neneknya yang mungkin kedaannya sudah menua sehingga tidak memberi perhatian lebih kepada cucunya.

*semua percakapan di atas hasil ketika aku berbincang dengan Gilang, anak yang sangat berbeda dari anak lainnya. Berani, penurut, namun terkadang sulit diajak belajar, sering mamasang wajah murung, banyak tingkah, harus lebih bisa memahami keadaannya. Ketika temannya belajar, Gilang ingin bermain hpku, dengan langsung merebut dari tangan atau mengambil dari saku kantong celanaku. Saat teman bermain, dia bernyanyi memainkan gitarnya sambil menyandarkan tubuh ke tasku, itu masih lebih baik, terkadang saking sulitnya Gilang, aku mengikuti dia dengan belajar tidur-tiduran sampai guling-gulingan di rumput. Waktunya dibagikan makanan terkadang Gilang enggan, bahkan berebut, dan ingin mendapat jatah lebih banyak. Namun begitu, aku tetap berusaha merayu dan tibalah saatnya untuk menaklukan Gilang yang akhirnya mau belajar, yang pasti jangan kehabisan akal deh. Karena pada dasarnya Gilang anak yang normal, dan sering mangajakku bercanda. Ketika belajar, menyandarkan tubuhnya ke pundakku akupun membiarkannya. Bukan begitu saja, ternyata Gilang anak yang tidak disukai oleh banyak temannya, sehingga teman-temannya mau bergabung belajar dengan syarat Gilang tidak ikutan. Lagi-lagi bertambah tugasku untuk merayu anak mahluk yang saling bermusuhan sampai akhirnya aku memisahkan cara dan tempat belajar Gilang daripada temannya yang lain
Catatan: aku selalu berusaha masuk dunia mereka, dengan batasan dan caraku sendiri. Meskipun mereka terlihat anak baik, aku tetap harus selalu mengkondisikan dan mengendalikan keadaan.

             Untuk bapak Robi, kalau tidak ingin mengurus anaknya, ya jangan disiksalah pak,, apa karena kesempatan istri bapak sudah meninggal? Anak bapak nakal? Kesal melihat tingkahya yang sulit diatur? Kenapa tidak bapak titipkan saja di tempat penampungan anak? Pak, Aku belum mencoba memiliki suami, pasti aku belum penah merasakan bagaimana perjuangan berrumah tangga ketika mengharapkan memiliki anak yang tampan fisik badan, pandai berfikir, cerdas beribadah, baik dan bisa berbuat lebih daripada orang tuanya. Tapi pak, semua anak aku pikir tuhan tidak salah menciptakan ketika mereka anak-anak tak berdosa dilahirkan ke dunia untuk menjadi generasi penerus keluarga bapak, justru itu menjadi tantangan bapak untuk memperjuangkannya. Tidak ada anak yang nakal ataupun bodoh, semua kembali bagaimana pola pengasuhan dan pendidikan yang mereka dapatkan. Bapak jangan heran jika suatu saat anak bapak menjadi pencuri, pemabuk, pembunuh atau penghuni sel tahanan anak. Aku tidak niat untuk menasehati atau mengajari seolah aku lebih memahami kondisi keluarga terutama anak bapak. Tidak pak, aku bukan tuhan, gurunya Robi, temannya Robi, kakaknya Robi, adiknya Robi, ibu angkatnya Robi, ataupun apalah silsilah yang ada di dalam pohon keluarga. Mungkin ibu Robi di syurga mengira bapak dari anaknya dapat menjaga amanat yang sudah diberikan Allah. Mohon maaf berikanlah tanggung jawab lebih kepada anak kandung bapak dan terima kasih atas pengertiannya

*berfikir, entah kapan aku berani dan mengutarakan isi tulisan ini