Harga Bahagia Itu Rp3.000

TAHUN BARU-KALENDER BARU-HARAPAN BARU

Ngamen dari kapan?
Baru keluar
Udah dapet berapa?
Gope Rp5.00
Uangnya untuk apa?
Beliin adik terompet
Berapa harganya?
Rp3.000
Dimana yang jual?
Disana *menunjuk seberang jalan*
-----setelah mengantarkan menyebrang jalan------
Siapa yang jualnya?
Ibu-ibu
Mana?
Yang itu
Pilih mau yang mana?
Yang ini
---------------- setelah transaksi ---------------

Terpancar wajah polos bahagia. Akhirnya keinginan Gilang membelikan adiknya terompet untuk memeriahkan tahun baru tersampaikan. Gilang terlihat lebih ceria, sambil sesekali meniupkan terompet yang bukan miliknya. Menaruh rasa curiga mungkin ada sedikit harapan Gilang ingin juga dibelikan untuk dirinya. Tapi aku tidak mengabulkan. Untuk memandirikan, serta mengajarkan hidup tidak boleh selamanya ketergantungan kepada orang lain.

Jangan ditiupin aja
Kenapa gitu teh?
Nantinya khawatir cepet rusak
Saya juga pengen teh
Nanti bekasnya buat apa?
Dipakel lagi sayang

Aku pikir cara Gilang yang seperti ini sederhana. Bukan menyambut tahun baru dengan berkumpul bersama keluarga, tidak membakar daging, ayam, bebek, cumi, udang, membuat sate. Ah, apapun jenis makan seafood/ hidangan hewan lainnya yang layak ditusuk-tusuk atau dipanggang di atas arang berselimut api. Tapi itu lebih baik, daripada harus membakar uang dengan membeli kertas mengandung bahan yang bisa meledak  menimbulkan cahaya warna-warni dicampur tenaga ahli teknologi tentunya terdengar bising jika lama-kelamaan mendengar suaranya. Terbesit dibenakku, mungkin Gilang hanya cuma-cuma merayakan tahun baru dengan 1 terompet milik bersama dengan ditiup secara bergantian. Tapi itu bagian dari memuliakan adik perempuannya. Anak seperti Gilang pendiam, tidak banyak keinginannya, dipaksapun sulit, ia menjalani hidup menjadi pengamen karena motivasi tuntutan ibunya yang salah memperlakukan anaknya dengan suruh mengamen. Waktu jarum jam berpindah semakin maju, terlihat ibu-ibu melewati jalan bersama anak perempuan. Setelah diperhatikan dari kejauhan ternyata dia ibunya Gilang, yang kemudian menghampiri anak laki-lakinya dengan niat meminta uang untuk membeli beras. Sungguh tragis. Aku bisa menerka harapan Gilang di tahun 2012

Do’aku untuk Gilang.

 Ibu diberikan kesadaran bahwa aku masih anak-anak
Menyadari bahwa aku harus dilindungi
Kedua orangtuaku mendapatkan pekerjaan
Mendapat penghasilan lebih dari seharga beras
Membebaskan kakak bersekolah bukan mencari harta
Aku tidak lagi harus bekerja di jalan
Mendapat kasih sayang seperti anak lainnya
Merasakan kenyamanan selain bekerja di jalan 
Perhatian inginku rasakan kembali seperti dahulu bayi
Aku ingin terus bersekolah
Hanya mendapat tugas PR dari guru
Bukan tugas mengumpulkan beras
Tidak putus-sambung kegiatan belajar di kelas
Hingga tercapai cita-citaku menjadi Polisi Militer

By: Ishmah Azhar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar