Percobaan Menjadikan Kecanduan Belajar


Ternyata sedikit lebih sulit ketika ingin tetap selalu berkomunikasi dengan anak-anak penyanyi jalanan. Entah lewat apapun caranya. Bisa dengan chatting via fb, sms atau telpon. Hanya sekedar menanyakan kabar, ada hal lainnya yang perlu disampaikan atau menanggapi mereka yang tiba-tiba sms atau kirim pesan melalui akun fb. Terkadang hidup ini memang tidak bisa diterka inginnya seperti apa dan tujuannya ke arah mana  yang sudah dirancang terkadang tidak berjalan lancar.

Belajar, mengajar. Ya, itulah program yang akan berharap segera berjalan dengan baik. Aku menekankan kepada anak-anak bahwa hidup itu enggak rugi kalo punya ilmu. Kamu bisa kayak, pintar & diakui oleh banyak orang, termasuk pahala juga.. meskipun terkadang kuakui belajar formal dirasa sangat membosankan. Terutama bagi anak–anak, khususnya anak yang acuh terhadap dunia pendidikan. Diantara anak ada yang bertambah karena ada saja setiap pertemuan anak baru masuk, dan anak yang sudah bergabung kadang tidak jelas keberadaannya kabur-kaburan. Sehingga silih berganti kehadiran keluar masuk anak baru dan lama. Anak-anak berkata lebih banyak jujur daripada orang remaja, dewasa apalagi orang tua yang sudah banyak terkontaminasi tipu daya berbohong. Mengajak anak belajar tidak mudah, tidak semua anak mau dan menanggapi langsung ingin bergabung belajar, bermain dan makan bersama. Biasanya kami berkumpul sambil bercerita. 
Aku bertanya "kamu udah pada bilang sama ibu belum mau belajar"?
"Udah ka, kata ibu ya udah ikut aja" itu jawaban normal yang diharapkan.
"Kak, kata Rion sama bapaknya Badrun, jangan deket sama tetet-teteh nanti diculik"
Aku menimpalinya "kamu sekarang gabung enggak takut diculik"?
Sianak berkata "enggak, gimana kakak mau culik, bawanya pake apa kali"
“ya, ngapain juga nyulik kamu, mau diapaian, gimana ngasih makannya” 
Sebetulnya peluang menculik itu terbuka lebar jika memang ada niat. Tapi tujuan aku dekat dengan anak-anak jalanan, ingin memberikan berbagi ilmu pengetahuan, kesempatan bermain, mencicipi makanan, dengan merasakan kenyamananan dan aman ketika berada di lingkungan kami serta tujuan utama adalah menghentikan segala kegiatan yang mempekerjakan anak-anak.
Percobaan pertama, anak-anak jalanan yang sudah disosialisakan terlebih dahulu mereka siap ingin belajar dengan perlengkapan alat tulis yang sudah dibagikan serta lokasi yang telah ditentukan. Antusias para anak hebat, aku dibuat takjub oleh apresiasinya. Awal aku mengira mungkin ini hanya anak-anak yang terbiasa dengan gaya “ikut-ikutan temannya ingin belajar”, tetapi pernyataan itu salah. Semua anak datang ada yang tepat waktu, begitupun terlambat. Proses belajar mengajar gagal, karena bocah-bocah tersebut tidak membawa alat tulis dengan berbagai alasan. Akhirnya aku bersama teman memutuskan untuk pertemuan sekarang kita bermain, tanpa belajar.
Percobaan kedua, heran campur aneh semua anak sudah duduk secara tidak beraturan di atas tanah beralaskan rumput serta ilalang. Lagi-lagi tidak semuanya membawa alat tulis, justru ada yang mengeluh karena alat tulis hilang, rusak, sampai diambil temannya. Rencana belajar matematika yang sudah dipesan pada pertemuan kemarin tidak terlaksana. Kegiatan diisi dengan bermain dan membagikan makanan ringan malah sebagian dari mereka menginginkan pecel lele. Aku pun berjanji akan membelikan keesokan hari, sebetulnya agar memancing mereka supaya tetap mengikuti kegiatan ini tetapi dengan catatan aku tidak ingin selalu mengabulkan keinginan mereka secara cepat.
Percobaan ketiga, hore berhasil!! Aku kaget begitu melihat lapangan kosong tidak ada sosok dari anak-anak tersebut. Aku menoleh ke arah lampu merah. Eh, ternyata salah satu anak melihat ke arahku dan langsung memanggil teman-temannya mendekati dan segera menghampiriku. Pertemuan ketiga aku lebih bersikap tegas. Diantaranya, pertama mengumpulkan alat ngamen untuk tidak dicampur dengan alat tulis, membersihkan tangan mereka menggunakan antiseptic sanitizer, menghimbau agar alat tulis, sampah bekas bungkus sisa makanan, serta mainan yang telah acak-acakan untuk dirapihkan kembali.  Jika ada anak yang tidak mengikuti peraturan aku menakut-nakuti tidak akan diberikan makanan. Alhasil mereka menepati janji belajar matematika,  melaksanakan tugasnya masing-masing, dan ditutup dengan acara makan-makan. Di awal pertemuan salah 1 anak membawa spanduk bertuliskan salah satu iklan rokok dengan wujud tidak bersih untuk dijadikan alas belajar, entah dari mana benda tersebut dapat ditemukan, serta dipinjam dari siapa. Kemudian anak-anak menjadikan gitar sebagai alas untuk menulis. Sempat merasakan cuaca mendung lalu gemericik gerimis kecil air berjatuhan. Kami semua yang ada di lokasi pindah ke rumah kosong berdekatan yang tidak kalah kotor, berdebu dan bau. Mereka mengeluh
“ka, disinimah gatal banyak nyamuk”
“ka, disinimah bau”
“ka, disinimah kotor”
“ka, disinimah tetep kehujanan”
“ka, nantimah jangan disin lagilah”
“ya, enggak apa-apa untuk sementara aja” Aku menjawab. Karena sebetulnya belajar di lapangan bermula dari usul dan keinginan anak-anak sendiri, dan aku menurutinya. Mendapat izin numpang belajar di lahan PT.PERTANI (PERSERO) ini butuh proses walau sempat terjadi kontroversi dan memang itu menjadi saksi pertemuan terakhir di tempat tersebut
Macam-macam tingkah anak diperlihatkan. Ada yang sulit diajak belajar, ada yang ketagihan minta tambahan soal, ada juga yang tidak mudah berfikir 11x22 untuk kelas 6 SD. Dan tentunya alasan utama saat itulah kami kekurangan tenaga pendamping. Aku memantau anak-anak sambil sesekali membantu menyelesaikan jawaban, dan teman bernama kifah memberikan soal. Sebagian dari mereka merasa terganggu dengan kelakuan anak yang cenderung sulit diatur dan mungkin cemburu anak lain tidak lebih diperhatikan daripada Gilang. Mereka berkata “udah si ka Gilangmah diemin aja, aleman, udah ka jangan ngurusin Gilang, udah ka, Gilang jangan dikasih makanan”. Tidak  ada niatan dari pertama aku jatuh hati pada semua jenis anak untuk membedakan-membedakan dengan menonjolkan kekurangan atau kelebihan masing-masing anak, sehingga mendapat perlakuan khusus yang ditampakkan kepada anak. Aku tidak marah kepada mereka, aku tidak menghina, aku mencoba memahami, mengerti, dan lebih sering memuji.

*Setelah berjalan proses KBMDJ (kegiatan belajar mengajar di jalan) si anak ketagihan malamnya menghubungi melalui sms

23-Jan-2012
19.42.24
Assalamualaikum..!
Ka, kapan belajar laginya..?
24-Jan-2011
11.54.12
Wassalamualaikum.
Lanjut sabtu depan lagi aja ya? Tapi kk enggak bisa, diganti sama teman enggak apa-apa ya.. tadi pulang ngamen jam berapa?

11.56.24
Wass. Iyh ka..!
Emang kenapa hari sabtunya ka?
11.58.02
Kakaknya lagi enggak bisa ada perlu. Diganti sama teman kk enggak apa-apa ya.. Belajar bahasa arab mau enggak?


11.59.55
Ywdah. Tmen kk sypa… ka?
Iyh ka!
12.09.00
Teman kk namanya kak Yeni dan kak Melia. Mau belajar dimana?

12.02.37
Di lpangan aja ka…!
Ywdah.
12.04.20
Ka kifahnya nggk nnti k sni ga.. ka?

12.07.30
Lapangannya udah enggak bisa dipake lagi. Kita belajar bermain & makan bareng, ajakin teman yang lain jangan lupa bawa alat tulisnya ya.. makasih Fauji baik.. Udah shalat jum’at dulu, titip salam ke teman-teman yang lain
12.05.48
Ywdah.
Iyh ka!
Ini mau brangkat.............!

29-Jan-2012
Aku menghubungi Fauji untuk memastikan apakah ingin belajar sekarang, tetapi tidak bisa dipaksakan juga karena cuaca hujan dan angin besar. Kurang lebih seperti ini isi pembicaraan selama nelpon
“Ass.. fauji mau belajar kapan?”
“Sekarang aja ka. Ini baru pulang ngamen hujan-hujanan”
“Ya Allah, belajarnya minggu depan lagi aja ya? Sekarang hujan”
“Iyah ka”
“Ass..”
“Wass..”
*tutup telpon

Dilanjut dengan langsung sms
14.41.00
Ass.. fauji dan teman-teman masih tetap pengen belajar hari ini atau minggu depan?
16.09.41
Wass.
Hari ini aja ka!

16:30:41
Fauji ngamen dimana? Sama siapa?
16:31:36
Di kebon jahe ka!, sama Entus, Kandi

16:33:02
Dapet berapa? Mereka udah pada pulang belum? Aduh fauji, jangan hujan-hujanan khawatir sakit..
16:35:46
Dapet 8500 doank ka..!
Ntus sama Kandi berangkat lagi…!
Iyh ka!

16:38:55
Pinter! Jangan ngikutin mereka maksain hujan-hujanan. Nanti kk kabarin lagi kalau mau belajar. Kalau enggak hari jum’at, sabtu, minggu.
16:39:21
Iyh ka!

Aku pikir sudahlah minggu ini program KBMDJ liburkan saja dahulu, mungkin sekarang saatnya anak istirahat dengan tidak keluar rumah untuk ngamen atau belajar. Tetapi itu hanya harapan belaka, si anak pada akhirnya mereka tetap ngamen meskipun hujan dengan kondisi basah-basahan. Aku menaruh do’a
“Ya Allah lindungi mereka dari celaka dan bahaya
hangatkan tubuh mereka ketika sudah mulai merasa kedinginan badannya
sadarkan kepada ibunda bahwa bukan saatnya mereka bekerja
berikan kekuatan ketika mereka akan melanjutkan aktivitas
tambahkan kekuatan lebih ketika tubuh mereka menopang beban setelah hujan-hujanan
jangan dahulu berikan kesempatan untuk merasakan sakit
segera keringkan tubuh-tubuh termasuk gitar-gitar kecil dan uang receh mereka ketika angin serta hujan menerpa peralatan ngamen yang dibawa.
semoga kalian tetap selalu menjaga kondisi dan baik-baik saja disana sayang”…

*sementara aku hanya bisa menatap dari sebrang jalan, chatting, berkirim pesan melalui fb, sms atau telpon, dan belum melanjutkan kembali kegiatan belajar mengajar di jalan karena sebab dan lain hal yang tidak bisa dikalahkan dan sama pentingnya. Salam rindu menggebu*


By: Ishmah Azhar

Terpenjara Dunia Maya


              
         
Virus Point Blank Menyebar Ke Jalan
  
          Internet tak mengenal waktu, batas, golongan, status, latar belakang maupun usia, memang kenyataan seperti itu. Meski banyak melakukan kegiatan di jalan, mereka termasuk bocah-bocah yang melek dengan kecanggihan teknologi. Di antara anak banyak yang memiliki akun facebook, awalnya aku mendengar ini bukan lelucon. Karena meski mereka bocah ingusan tetap memanfaatkan dunia maya. Akupun menyambutnya, “nanti kita temenan, chatting-an ya kalo sebelum mau ketemu besoknya. Mereka menjawab “ya nanti malem buka pesbuk” (baca dalam bahasa anak sunda). Kemudian aku berkata, Nanti kita mainnya twitter”, salah satu anak berbicara. “Ya kak, nanti bikinin twitter ya”.. Aku pun menanggapi “ya”. Aku juga mengapresiasi teman anak jalanan yang tidak memiliki akun facebook. Bagus! Jangan ya, kamu masih kecil belum cukup umur. Memang mereka belum 13 tahun, berarti mereka memanipulasi data tahun kelahiran. Sebelum mengakhiri pertemuan aku berpesan kalian jangan sering ke warnet untuk buka facebook, boleh punya facebook, tapi jangan buka yang macem-macem lainnya,  jangan juga sering main game online nanti uangnya abis!

            Sebetulnya itu bagian dari keinginanku. Bagaimana atau menggunakan cara apa saja supaya kami tetap saling berkomunikasi untuk mempermudah mengetahui kondisi masing-masing anak serta bisa melakukan perjanjian sebelum aku mendatangi ke jalanan. Tak jarang ketika aku bersama teman ingin bermain, berbagi cerita atau apapun itu jenisnya, aku sering kesulitan mencari anak–anak yang selalu melakukan perpindahan tempat ketika aktivitas mengamen. Sudah pulang, sedang sakit dan alasan lainnya sehingga aku gagal bertemu mereka padahal sudah melakukan persiapan sampai aku merasa kecewa dan sedikit kesal. Karena habitat mereka belum menetap yang masih berpindah-pindah tempat, apalagi sekarang halaman ruko yang biasa aku dan kawan-kawan berkumpul bersama anak jalanan sudah tidak bisa digunakan kembali. Pasalnya, ruko kini sudah menjadi tempat pet shop & counter. Alhasil untuk sementara kita melakukan aktivitas di posko kuburan.
Kemana Entus dan yang lainnya?
Lagi di warnet
Ngapain?
Main PB
Di warnet mana?
Warjok (warung pojok)
Kamu punya facebook enggak?
Enggak ada teh
Kenapa?
Tadinya punya, sekarang udah dihack
Udah, nanti enggak usah ke warnet, teteh bawain laptop sama modem supaya uang kamu jangan dipake ke warnet lagi
Iya teh? *wajah bahagia
Iya. Kasih tahu teman yang lain
Iya teh
            Point blank. Akupun tidak tahu banyak masalah permainan tersebut. Hanya kutahu game online tersebut semacam permainan yang jika tidak memiliki aplikasinya harus download terlebih dahulu bisa juga membeli investasi/ membayar dengan uang untuk bisa main perang-perangan, mengumpulkan senjata, mengalahkan lawan, mendapatkan pangkat melalui level yang berbeda, ah, apapun semua komponen yang ada di dalam game online tersebut yang bisa menghubungkan ke sesama pemain yang sedang memainkan perannya. Mereka yang kecanduan bukan hanya anak-anak sekolahan, anak jalanan, tetapi anak kuliahan, para pekerja sampai bapak-bapak yang sudah punya anak bersama-sama memainkan permainan tersebut. Dunia permainan boleh untuk semua kalangan, tetapi harus dibatasi waktu jangan terlena sampai lupa dengan dunia nyata yang sedang dilakoninya. Memakai internet untuk anak-anak sebetulnya masih risih jika mereka tidak bisa menggunakan internet sesuai fungsinya. Khawatir membuka situs porno, mencegah mereka bisa berbuat yang tidak senonoh atau mungkin anak-anak yang kemudian menjadi korban teknologi.
Seperti kita ketahui, jika kita sudah mengkoneksikan diri dengan internet maka apapun bisa terjadi, semua berita informasi dapat kita baca, dari yang update sampai out of date agar tidak ketinggalan berita katanya. Kasus pencurian, pembunuhan, penipuan bisa mengandalkan internet. Dari mulai yang jualan, iseng-iseng cari teman atau mangsa untuk dijadikan korban selanjutnya. Untuk itu, aku berharap para orangtua yang sedang sibuk dengan dunia kerjanya, kakak-kakak yang cuek kepada adiknya, mohon sejenak luangkan waktu mereka, pantau kegiatan apa saja yang sering mereka lakukan, atau kita bisa cek dengan melihat berkas penjelajahan apa saja yang digunakan si anak. Terlepas dari manfaatnya yang tak kalah hebat, karena segala sesuatu mempunyai kekurangan dan kelebihan. Allah memang Maha Adil.




By: Ishmah Azhar

Harga Bahagia Itu Rp3.000

TAHUN BARU-KALENDER BARU-HARAPAN BARU

Ngamen dari kapan?
Baru keluar
Udah dapet berapa?
Gope Rp5.00
Uangnya untuk apa?
Beliin adik terompet
Berapa harganya?
Rp3.000
Dimana yang jual?
Disana *menunjuk seberang jalan*
-----setelah mengantarkan menyebrang jalan------
Siapa yang jualnya?
Ibu-ibu
Mana?
Yang itu
Pilih mau yang mana?
Yang ini
---------------- setelah transaksi ---------------

Terpancar wajah polos bahagia. Akhirnya keinginan Gilang membelikan adiknya terompet untuk memeriahkan tahun baru tersampaikan. Gilang terlihat lebih ceria, sambil sesekali meniupkan terompet yang bukan miliknya. Menaruh rasa curiga mungkin ada sedikit harapan Gilang ingin juga dibelikan untuk dirinya. Tapi aku tidak mengabulkan. Untuk memandirikan, serta mengajarkan hidup tidak boleh selamanya ketergantungan kepada orang lain.

Jangan ditiupin aja
Kenapa gitu teh?
Nantinya khawatir cepet rusak
Saya juga pengen teh
Nanti bekasnya buat apa?
Dipakel lagi sayang

Aku pikir cara Gilang yang seperti ini sederhana. Bukan menyambut tahun baru dengan berkumpul bersama keluarga, tidak membakar daging, ayam, bebek, cumi, udang, membuat sate. Ah, apapun jenis makan seafood/ hidangan hewan lainnya yang layak ditusuk-tusuk atau dipanggang di atas arang berselimut api. Tapi itu lebih baik, daripada harus membakar uang dengan membeli kertas mengandung bahan yang bisa meledak  menimbulkan cahaya warna-warni dicampur tenaga ahli teknologi tentunya terdengar bising jika lama-kelamaan mendengar suaranya. Terbesit dibenakku, mungkin Gilang hanya cuma-cuma merayakan tahun baru dengan 1 terompet milik bersama dengan ditiup secara bergantian. Tapi itu bagian dari memuliakan adik perempuannya. Anak seperti Gilang pendiam, tidak banyak keinginannya, dipaksapun sulit, ia menjalani hidup menjadi pengamen karena motivasi tuntutan ibunya yang salah memperlakukan anaknya dengan suruh mengamen. Waktu jarum jam berpindah semakin maju, terlihat ibu-ibu melewati jalan bersama anak perempuan. Setelah diperhatikan dari kejauhan ternyata dia ibunya Gilang, yang kemudian menghampiri anak laki-lakinya dengan niat meminta uang untuk membeli beras. Sungguh tragis. Aku bisa menerka harapan Gilang di tahun 2012

Do’aku untuk Gilang.

 Ibu diberikan kesadaran bahwa aku masih anak-anak
Menyadari bahwa aku harus dilindungi
Kedua orangtuaku mendapatkan pekerjaan
Mendapat penghasilan lebih dari seharga beras
Membebaskan kakak bersekolah bukan mencari harta
Aku tidak lagi harus bekerja di jalan
Mendapat kasih sayang seperti anak lainnya
Merasakan kenyamanan selain bekerja di jalan 
Perhatian inginku rasakan kembali seperti dahulu bayi
Aku ingin terus bersekolah
Hanya mendapat tugas PR dari guru
Bukan tugas mengumpulkan beras
Tidak putus-sambung kegiatan belajar di kelas
Hingga tercapai cita-citaku menjadi Polisi Militer

By: Ishmah Azhar