Usia Belia Menuju Remaja




              Memperlakukan anak yang hidup di jalanan tidak mudah, namun bukan berarti sulit pula. Anak semacam mereka butuh pendamping ekstra. Ekstra hati-hati, ekstra sabar, tentunya butuh ekstra waktu yang lebih lama untuk memasuki, mengenal, dan membuat saling nyaman satu sama lain. Dunia mereka sudah berbeda, bukan sama seperti anak lainnya yang hidup normal. Mereka bisa menjadi anak yang berfikiran kotor, berkata kasar, bertingkah brutal, bersikap anarkis, berani bertindak nekat, sampai otak mereka pun dibuat rusak. Semua dilakukan dengan sadar terlepas bagaimana cara anak tersebut dibesarkan oleh lingkungan pertemanan. Kebanyakan dari mereka awalnya butuh sejuta rayuan untuk bisa belajar, diberi makanan pun mereka belum tentu mau bergabung, hingga diberi mainan terkadang sulit untuk menaklukan hati mereka.
            Pertama aku memasuki dunia jalanan mereka anak-anak pengamen jalanan terlihat baik-baik saja, tidak banyak bebeda dari anak lainnya yang seumuran. Mereka sekilas manis, penurut, terkadang manja. Tetapi setelah 1 tahun 27 hari, semua mampu kurasakan. Banyak yang berbeda dan berubah dari mereka. Awalnya mereka masih polos, sekarang mereka sudah banyak tercampur pengaruh buruk, mungkin juga didominasi usia yang akan segera beranjak melewati masa remaja. Karenanya tidak heran ketika pertama bertemu anak berbadan mungil dan berusia kanak-kanak meminta ingin kawin serta mengeluh tidak mau melanjutkan sekolah. Ketika cara bersalaman pun si anak berbeda, setelah menggenggam tangan kemudian menciumnya seperti tidak lazim. Hingga anak-anak ada yang melontarkan pertanyaan "nanti kalo kak Azhar udah nikah lupa ya sama kita"? Sejauh itukah pemikiran mereka diantara anak-anak kisaran kelas 4-5 SD.
            Selama ini, aku berusaha memperlakukan mereka semua secara adil. Tidak boleh ada salah satu yang merasa dijadikan anak emas. Namun, setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda dan mereka belum memahaminya, seperti:
1.    Anak ditinggalkan orang tua meninggal, membutuhkan kasih sayang lebih
2.    Anak ditinggalkan orang tua berpisah, membutuhkan perhatian khusus
3.    Anak memasuki dunia pendidikan, membutuhkan dukungan&dana tambahan
4.    Anak meninggalkan dunia pendidikan, membutuhkan motivasi&kepercayaan
5.    Anak korban kekerasan membutuhkan belaian penghargaan&hiburan mainan
Aku sering spontan melihat anak-anak baru bertemu atau sudah lama sering bertemu untuk bersalaman, berpelukan/ berciuman dalam tahap yang wajar. Tapi terkadang aku khilaf melakukan tindakan yang sama kepada anak jalanan seperti anak–anak kecil pada umumnya. Seperti melakukan sentuhan ketika mereka sulit diatur dan terlihat ingin dimanja. Aku tidak sering ketika merayu mereka belajar menaruh tangan dipundak salah 1 anak, atau ketika ada yang bertengkar, aku melerai sambil memeluk punggung mereka untuk meredakan emosi. Aku tersadar, lagi-lagi mereka semua anak yang tidak boleh disamakan seperti anak yang memiliki kehidupan normal. Aku pikir mereka diperlakukan seperti itu tidak ada reaksi yang berlebihan. Namun, setelah diamati ada salah  1 anak yang terkadang sedang belajar atau saat berjalan kaki, sambil bersandar di pundak atau anak yang sulit belajar tiba-tiba berani mengambil ponsel yang ada di saku karena memang sudah terlihat keluar sehingga si anak tidak merogoh ke dalam. Aku anggap awalnya biasa, hanya bagian dari candaan. Tetapi mulai sekarang aku harus mengurangi atau berhenti melakukan sentuhan yang mungkin sedikit dianggap berlebihan. Karena mungkin mereka akan, sedang atau sudah melewati masa pubertas.  Sehingga perlakuan aku atau si anak tampakkan khawatir disalah artikan. Sangat dimaklumi apapun yang dilakukan si anak karena hidupnya tidak banyak diarahkan ke jalan yang benar sesuai usianya. Orang tua asik dengan pasangan barunya masing-masing, sibuk mengurusi karir ke negara tetangga menjadi budak yang tidak kalah mulia daripada membimbing anaknya menjadi generasi penerus yang hebat serta terhormat.

Fanta (si) Anak




Dunia anak-anak, anak remaja, anak dewasa, wanita jadi-jadian atau bukan pria sungguhan hingga usia muda-tua aku yakin pasti memiliki dunia khayalan. Mereka semua bisa bebas berfantasi apapun yang dibayangkan. Terutama anak-anak yang bisa merekayasa terkadang diluar nalar batas normal. Seperti yang dikatakan salah satu adik jalanan bernama Sofyan. Banyak cerita yang oleh si anak diutarakan kepada mamahnya khususnya tentang kedekatan ketika bersama denganku.
Pertemuan sore kemarin aku besama teman-teman berkunjung ke rumah Sofyan dengan tujuan membicarakan kelanjutan pendidikan paket A dan ingin melihat keadaan tempat tinggal keluarga adik-adik jalanan yang sesungguhnya. Dimulai dengan pembicaraan tentang kepribadian Sofyan, permasalahan tentang adik-adik jalanan, sampai becerita banyak tentangku. Kemudian seketika aku bertanya

Sofyan suka cerita tentang saya bu?
“Ya, kalau pulang pasti cerita. Sofyan banyak cerita sama saya tentang kak Azhar katanya mah, ketemu teteh kampus orang baik pada cantik-cantik lagi, Sofyan dikasih buku, alat tulis”
Aku menimpali sambil sedikit tertawa


MS      : (Mamah Sofyan) “Siapa kak Azhar itu”?
S         : (Sofyan) “Mah, kak Azhar itu orangnya asyik, Sofyan suka dikasih makanan, disuruh sekolah lagi ikut paket (paket ujian A untuk anak SD). Nantimah nanyalah sama kak Azhar kelahiran tahun berapa. Nanti Sofyan sama teman-teman yang lain mau ngumpulin bikin kejutan”
MS     : Pernah dia ke rumah mukanya jutek. “Kenapa Sofyan”?
S        : “Kak Azharnya sombong, pilih kasih”! terus Sofyan bilang, teman-teman besok jangan mau ada yang kesini lagi!
Ya bu, karena waktu itu saya lagi ngurusin Didin mau ikut paket, jadi sementara merekanya enggak saya perhatiin. Pusing juga, banyak yang ngomong saya bingung nanggepin yang mana dulu.
MS      : jangan begitu, kan yang diurusin kak Azhar banyak bukan ngurusin Sofyan aja..
S         : “mah, Kak Azhar ngajakin ke rumahnya. Wah, di rumahnya gede, banyak mobil”.
M S     : “Terus gimana, ketemu ibunya kak Azhar”?
S         : “Di rumahnya tinggal sendiri”.
MS     : “masa rumah gede tinggal sendiri”?
S        : “Ya mah. Terus Sofyan disana makan enak, kata kak Azhar makannya di atas meja makan jangan di bawah. Eum, mah pokoknya enak. Disana ada kolam renangnya”
MS      : “Kamu renang enggak”?
S        : “Enggak mah. Terus Sofyan bilang sama kak Azhar. Kak jangan naik mobil Avanza, naik mobil sedan aja. Terus kak Azharnya jawab. Kalau yang itu bukan punya kak Azhar, punya kakek. Sofyan naik sedan, enak mah”..
MS      : “Terus abis makan ngapain lagi”?
S         : “Udah, pulang. Nanti mau jalan-jalan sama kak Azhar”
MS     : “nanti kamu kalau ke rumah orang harus sopan”
S        : “Gimana mah ya, kalau kak Azhar main ke rumah Sofyan malu kayak begini”

Aku menjawab, ah ibu enggak apa-apa sama aja.. Akupun menyimak dan menanggapi, bohong. Aduh bu, itu semua rekayasa Sofyan. Kalau begitu, itumah istana presiden bukan rumah saya. Hehe…
Ya, suka saya tanggepin aja, karena dia suka dilebih-lebihin kalau cerita.
Ya bu, enggak tahu kenapa adik-adik jalanan temennya Sofyan sering bilang sama saya
“kak, main ke rumah kakak yuk”?
“Mau ngapain? Di rumah saya enggak ada mainan”
“Mau makan-makan”
“Makan sama apa”?
“Sama ayam goreng. Nantilah kak Azhar pulang kita ikutin dari belakang”
Janganlah..

Bukan aku tidak mau dikunjungi adik-adik jalanan. Tetapi sesungguhnya dari awal aku lebih berhati-hati menjaga jarak termasuk tidak memberi identitas asli khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena disaat sekarang ini, aku belum bisa membedakan mana orang yang tulus pura-pura baik atau benar-benar  jahat. Tak jarang adik-adik jalananpun bertanya langsung atau melalui pesan singkat “rumah kakak dimana sih? Blok apa nomer berapa"? Aku terkadang berfikir, "apa yang sebenarnya mereka inginkan ketika berada di rumahku? Apakah benar ingin makan karena kelaparan? Ingin menguji kebaikanku? Atau apapun alasannya belum bisa aku terima".

Anak-anak juga tidak jarang mengajakku jalan-jalan
“Kak, nanti libur sekolah jalan-jalan yuk”?
“Kemana”?.
“Renang”
“Dimana”?
“Water park di Tembong”.
“Dimana Tembong”?
“Ya Allah, tinggal dimana sih? Tembong aja enggak tahu. Itutuh, kalo dari sini lurus”
“Tapi naik mobil kakak ya”?
“Enggak ah”..

Ada juga yang ingin main-main
"Kak, katanya mau jalan-jalan"? 
"Kata siapa? Saya enggak pernah ngomong"
"Kata tema-teman"
"Mau ngapain"?
"Jalan-jalan aja kak, muter-muter Royal (nama daerah tempat berkumpulnya penjual dan pembeli). naik mobil kakak".
Huh! aku menarik nafas tidak lega.

 
Aku tidak menyalahkan apapun yang anak sedang pikirkan kemudian mereka ungkapkan. Meskipun  terkadang seperti tidak terjangkau apabila yang dilakukan atau diutarakannya melewati batas akal sehat. Hanya saja membuat mereka anak-anak menjadi penikmat dunia khayalan yang tidak baik jika terlalu kebanyakan atau berlebihan.