Sogokkan Di Persimpangan



Persimpangan Lampu Merah

16 Desember 2011
15:05

Aku menanti dua orang teman perempuan yang sudah berjaniji sebelumnya akan bertemu di persimpangan lampu merah. Setelah teman-teman berdatangan, kemudian menanti anak yang biasa bertemu tetapi sekarang terlihat jarang. Hanya ada 1 anak yang asik bercengkrama dengan para kakak-kakak jalanan yang terlihat lebih dewasa darinya.
Tahap pertama aku memanggil anak kecil tersebut. Si anak tak menoleh, melihat, mungkin tak mendengar dan tidak menggubris bahasa isyaratku yang bermaksud kamu kesini. Tahap kedua mempertegas cara lain. Mencoba lebih mendekatkan diri ke badan jalan, mengeraskan suara panggilan, dan lebih banyak menggunakan bahasa tubuh dengan semampu serta senormal mungkin agar anak mengerti, menyapa balik sampai menghampiri.
Detik berganti menjadi menit, sang pengayuh becaklah yang ternyata melirik. Akhirnya si bapak tukang becak yang sedang memarkirkan becaknya sambil menunggu penumpang, mendekati si anak yang dimaksud. Awalnya aku sedikit khawatir, apa maksud dari bapak tukang becak ini. Kok dia yang melihat ke arahku? Kok bapak tersebut menunjuk anak yang aku maksud? kok menghampiri dengan wajah yang sulit diterka apakah marah? Kok sepertinya mungkinkah mereka keduanya ayah& anak? Kok bapak yang belum tua tapi sudah lewat masa muda mau mengantarkan anak ke tepian toko? yang masih bertuliskan “TOKO INI DIKONTRAKKAN HUBUNGI 08**********”
Lambat laun langkah kaki kedua bocah lelaki berbeda usia sudah tak berjarak, yang pertama nampak dari seberang beberapa langkah lebih jauh, sekarang sudah dihadapanku. Bapak becak mau mengantarkan anak kecil tersebut menyebrangi jalan menuju wajahku yang sebelumnya aku belum pernah bertemu sapa. Begitupun dengan anak jalanan yang dibawa melintasi lampu merah, aku tak pernah melihat bahkan berkenalan dengannya selama aku dekat dengan anak-anak jalanan lainnya. Aku memulai perbincangan sambil mengulurkan tangan

Namanya siapa?
Badrun
Udah lama ngamen disini?
Udah
Tapi ko saya enggak suka liat kamu disekitar sini?
Saya udah lama disini, biasanya disini aja
Kamu sekolah?
Sekolah
Kelas berapa?
Kelas 5 SD
Udah dapet uang berapa?
Rp4.500
Mana teman-teman yang lain (Deden, Gilang, Kandi, Aji, Entus, Robi dkk)?
Enggak ada, udah pulang, enggak liat, ada di warjok/ warung pojok nama tempat yang biasa dikunjungi anak pengamen (alasan yang mungkin benar  kenyataannya tanpa bisa dibuktikan)
Mau enggak panggil teman-temannya yang lain?
Enggak mau. Mau pulang, nyari uang gope lagi
Mau enggak panggil temennya barengan aku naik angkot?
Lah enggak *gelang-geleng kepala*
Mau enggak kamu sendiri panggilin temennya?
Menggelengkan kepala lagi
Mau enggak saya kasih gope tapi kamu panggil mereka?
Melanjutkan gelengan kepala kembali
Mau enggak saya kasih seribu?
Enggaklah
Teteh ada makanan mau enggak?
Si tangan langsung menyambar mengambil makanan
Bilang apa?
Makasih
Mau enggak panggilin teman yang lain?
Enggak lah
Nanti kita belajar sambil bermain. Mau enggak panggil teman yang lainnya?
Lah, enggak lah
Nanti kita belajar pelajaran sekolah sabtu minggu. Mau enggak panggilin temannya?
Lah, enggaklah
Kamu kenapa enggak pake sandal?
Sendalnya udah putus
Mau enggak dibeliin sandal?
Menggangguk
Ya udah, panggil teman yang lain supaya nanti bisa diukur kakinya. Tapi teteh ngumpulin dulu uangnya. Mau enggak panggilin yang lain?
Menggangguk dengan malas&tidak yakin.

Hore!! Wajah kita berdua langsung sumringah. Ya seperti itu, kadang tidak mudah mengajak& merayu anak sekalipun pengamen jalanan kecil yang masih polos. Tapi aku menaruh curiga, mengapa si anak belum naik angkot. Setelah menghilang, kenapa dia tidak datang dengan cepat. Jawabannya ternyata anak tersebut sudah pergi entah kemana tak kembali tanpa wujud asli dan kabar yang pasti. Sambil berdo’a menunggu teman jalanan yang lain berharap ada yang lewat.
Akhirnya datang juga 2 anak kecil, dan 1 anak beranjak dewasa terlihat dari perawakan badan. Setelah melalui pendekatan, berkenalan, dan mengenalkan program yang akan direncanakan. Lalu ada 2 anak tanggung yang salah satunya menyapaku karena sudah saling bertemu sebelumnya. Dia mencium tanganku. Lalu kami bertiga memulai pembicaraan bahwa mulai minggu depan kita berencana akan belajar bersama, tapi masih mencari guru-guru relawan dan tempat untuk proses belajar mengajar.
Sogokkan pertama, para anak siap belajar mengajar sambil bermain, sembari menyesuaikan jadwal anak-anak tersebut menjual suara di jalanan. Alternatif menetukan lokasi tempat di lapangan dengan syarat membawa tikar kata salah 1 anak. Selanjutnya sogokkan kedua, kami berkompromi kepada anak yang belum& yang sudah makan, agar mau makan. Supaya nanti kalo di rumah ibu enggak masak, perut mereka masih terganjal dengan sedikit nasi bungkus, lauk, lalap, sambal, 1 bungkus teh hangat & uangnya yang udah ada enggak usah jajan lagi.
Kemudian salah satu temanku menyebrangi jalan menuju warung pecel lele. Setibanya pulang sampai dikerumunan, dengan rasa malu anak-anak melahapnya makan sambil membelakangi selokan yang sedikit lebih bau menyengat& sampahnya sudah membludak tidak seperti biasanya. Satu suap, hingga suapan terakhir, tengkorak kepala yang bersisa kembali diisap dan menggigit tulang-belulang yang masih hinggap sedikit daging-dagingnya. Meski ada di antara mereka yang terlihat memang sudah kenyang, tidak nafsu & memang tidak lapar tetapi menghargai pemberian kami dengan sedikit memaksakannya.


Terakhir kami mengajukan sogokkan yang ketiga  kepada anak-anak yang tidak memakai sandal. Kamu punya sandal enggak? Kenapa enggak pake sandal? Berapa ukuran nomer sandalnya? Insya allah teteh mau ngebeliin sandal, tapi nanti tetehnya ngumpulin uang dulu. Memang jujur diakui, sebelum memulai dan selama sampai setelah dekat bersama anak-anak kami selalu berfikir serta berusaha meluncurkan aksi-aksi rayuan supaya mau mengikuti perintah yang tidak saling merugikan. Jika berjanji, kami berusaha menepati.


By -Ishmah Azhar-

1 komentar:

ipank ptc 049 mengatakan...

Hhmm..., Walau bagaimanapun keadaannya, berbagi (insya Allah) akan tetap indah... :D

Posting Komentar